About

MTs Al Isthakhariyyah Pamalayan

MTs Al Isthakhariyyah

MTs Al Isthakhariyyah - Lembaga Pendidikan Islam Terbaik.

MTs Al Isthakhariyyah Hiking Rally

MTs Al Isthakhariyyah - Lembaga Pendidikan Islam Terbaik.

Pelantikan OSIS

MTs Al Isthakhariyyah - Lembaga Pendidikan Islam Terbaik.

Upacara Pramuka

MTs Al Isthakhariyyah - Lembaga Pendidikan Islam Terbaik.

Perpisahan

MTs Al Isthakhariyyah - Lembaga Pendidikan Islam Terbaik.

Tampilkan postingan dengan label SKI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SKI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Maret 2015

Kisah Nabi Khidir ‘alaihis salam


bagian 03
Pelajaran Untuk Nabi Musa
Nabi Musa tidak sabar ingin segera mengetahui maksud dan ilmu yang akan diberikan oleh Nabi Khidir.
“Wahai Musa, semua yang kulakukan bukanlah atas kehendakku sendiri. Allah SWT yang telah memerintahkannya,” Nabi Khidir mulai membongkar rahasianya.
Nabi Musa masih dibuat bingung, belum mengerti arah pembicaraannya. Kali ini Nabi Musa bisa bersikap sabar.
“Aku melubangi perahu itu tujuannya untuk menyelamatkan pemilik perahu. Perahu itu milik orang miskin. Ia bekerja dan mencari nafkah di laut. Saat itu ada seorang raja beserta pengawalnya yang ingin mengambil secara paksa hasil semua tangkapan laut para nelayan dan merampas perahunya. Dengan melubangi perahunya, aku bermaksud menyelamatkan sumber penghidupan orang miskin itu. Sehingga para pengawal raja tidak akan menghancurkannya. Suatu saat, orang miskin itu akan menambalnya dan bisa melaut kembali,” jelas Nabi Khidir.
“Makna kejadian kedua, aku ingin menyelamatkan kedua orang tua dari anak yang aku bunuh itu. Bapak dan Ibunya termasuk orang yang beriman. Tetapi anak yang aku bunuh itu jika sudah dewasa akan durhaka dan menyesatkan agama orang tuanya. Setelah anak itu terbunuh, Ibunya anak melahirkan seorang anak lagi yang lebih baik dan sayang kepada kedua orang tuanya,” Nabi Khidir menjabarkan secara detail.
“Adapun rumah yang hampir roboh itu milik anak yatim. Di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka. Ayah anak yatim itu orang yang ahli ibadah. Allah SWT menghendaki, bila anak yatim itu kelak dewasa dapat mengeluarkan simpanan dari Ayahnya. Itulah di antara sebagian rahmat dan ilmu yang diberikan oleh Allah SWT kepadaku,” Nabi Khidir mengakhiri perkataannya, lantas meninggalkan Nabi Musa.
Nabi Musa baru bisa memahami dan menerima perilaku-perilaku aneh gurunya. Nabi Khidir merupakan simbol ketenangan dan diam. Ia tidak sembarangan berbicara dan gerak-geriknya selalu menimbulkan kegelisahan dan kebingungan dalam diri Nabi Musa. Dengan demikian, Nabi Khidir sebenarnya ingin memberi pelajaran kepada Nabi Musa. Selama ini ilmu Nabi Musa sangat terbatas, sementara ilmu Allah SWT maha luas tak bertepi. Oleh karena itu, seseorang tidak boleh sombong, termasuk Nabi Musa yang sudah memperoleh Kitab Taurat.
Selain itu, Nabi Khidir secara khusus ingin mengajarkan ilmu hakikat atau ilmu hikmah kepada Nabi Musa. Nabi Musa dikenal sebagai nabi dan rasul yang ahli dalam ilmu syariat, tapi tidak memiliki ilmu hakikat. Ilmu hakikat adalah ilmu untuk memahami suatu misteri dibalik sebuah peristiwa yang seringkali tidak dapat dicerna akal manusia. Padahal dibalik kejadian, bencana atau musibah itu pasti terdapat kenikmatan dan rahmat Allah SWT yang besar, seperti yang dilakukan Nabi Khidir.***

Kisah Nabi Khidir ‘alaihis salam


bagian 01
Posted Mei 12, 2009 by komunitasamam in tokoh islam.
Penutur Ulang Lukman Hakim Zuhdi
Nabi Khidir ‘alaihis salam adalah salah satu nabi pilihan Allah SWT. Cerita tentang Nabi Khidir terkait erat dengan kehidupan Nabi Musa ‘alaihis salam. Ketika itu Allah SWT memerintahkan Nabi Musa untuk berguru kepada seseorang yang arif, bijaksana, saleh, memiliki ilmu tinggi, dan berpenampilan sederhana. Malaikat Jibril memberita tahu kepada Nabi Musa bahwa orang mulia yang diketahui bernama Nabi Khidir itu berada di dekat majma al-bahrain (titik bertemunya dua lautan besar). Setelah mendapat perintah, Nabi Musa mempersiapkan bekal secukupnya. Ia rela meninggalkan kampung halamannya demi memperoleh ilmu baru.
Perjalanan yang ditempuh Nabi Musa sangat jauh dan memakan waktu lama. Akhirnya ia hampir sampai di majma al-bahrain. Dari arah kejauhan, ia melihat ada seseorang di tepi lautan. Orang itu tengah duduk sendirian di atas batu sambil menyaksikan gelombang ombak lautan. Nabi Musa yakin orang itu tidak lain Nabi Khidir. Nabi Musa kemudian mengucapkan salam kepadanya seraya memperkenalkan diri. Setelah saling mengenal, Nabi Musa menyampaikan maksud kedatangannya.
“Wahai Khidir, bolehkah aku mengikuti perjalananmu? Aku berharap kamu akan mengajarkan ilmu dan karunia yang telah diberikan oleh Allah SWT kepadamu,” kata Nabi Musa penuh harap.
“Wahai Musa, aku tidak mau menerimamu. Kamu tidak akan sanggup bersikap sabar ketika sedang bersamaku. Kamu tidak akan kuat menanggung penderitaannya. Sebab, kamu belum mempunyai ilmu dan pengetahuan yang cukup mengenai hal ini,” jawab Nabi Khidir dengan kelembutan dan kesopanan.
“Aku berjanji, insya Allah akan menjadi orang yang bersabar dan tidak akan menentangmu,” Nabi Musa menegaskan.
“Baiklah. Jika memang begitu, aku ingin memberikan persyaratan khusus. Kamu jangan menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun sampai aku menjelaskan kepadamu,” Nabi Khidir mengingatkan.
“Ya, aku menerima dan setuju dengan persyaratan yang kamu ajukan,” Nabi Musa menyepakati.

Kisah Nabi Khidir ‘alaihis salam


bagian 02
Nabi Khidir Membocorkan Perahu
Nabi Khidir mengajak Nabi Musa berjalan-jalan di tepi lautan. Keduanya sama-sama terdiam. Hanya suara ombak bersahut-sahutan yang terdengar. Setelah itu, Nabi Khidir mempersilakan Nabi Musa menaiki sebuah perahu kayu yang tengah disandarkan pemiliknya. Keduanya berlayar ke tengah lautan lepas. Tidak ada persoalan yang dibicarakan oleh keduanya. Menjelang perahu menepi di tempat semula, Nabi Khidir mengambil kapak. Tiba-tiba ia melubangi perahu itu hingga bocor. Secara otomatis air segera memenuhi bagian bawah perahu. Nabi Musa sungguh terkejut, khawatir dirinya mati tenggelam.
“Kenapa perahu itu segaja kamu lubangi? Apa kamu tidak merasa kasihan dengan pemiliknya? Perbuatanmu itu jelas salah besar dan mencemaskanku!” cetus Nabi Musa, emosinya sedikit naik.
“Kamu bukan termasuk orang yang sabar. Bukankah aku sudah mengingatkanmu untuk tidak berkomentar dengan apapun yang kulakukan?” Nabi Khidir sekadar mengingatkan.
Nabi Musa baru teringat dengan persyaratan yang ditetapkan Nabi Khidir. Ia pun langsung memohon maaf dan meminta Nabi Khidir tidak menghukum atas kealpaannya. Nabi Khidir diam sebagai tanda telah memaafkannya. Keduanya lalu melangkahkan kakinya meninggalkan tempat perahu disandarkan. Perahu yang baru dinaiki dan dilubanginya itu setengahnya sudah tergenang air.
Dua Peristiwa Aneh
Nabi Khidir dan Nabi Musa berjalan melewati suatu kebun yang biasa dijadikan tempat bermain anak-anak kecil. Salah seorang anak kecil terlihat kecapekan sehabis bermain. Ia bersandar pada sebuah pohon besar. Semilir angin yang berhembus rupanya membuatnya tertidur pulas. Nabi Khidir yang mengetahui bocah itu sudah terpejam kedua matanya segera mendekat. Tanpa basa basi, tiba-tiba saja Nabi Khidir membunuh bocah itu. Nabi Musa benar-benar terperanjat dengan tindakan nyeleneh gurunya itu.
“Kenapa kamu membunuh anak lelaki yang tidak berdosa ini?” Nabi Musa spontan bertanya dengan suara lantang.
“Wahai Musa, bersabarlah ketika sedang bersamaku,” ucap Nabi Khidir, tenang.
Nabi Musa meminta maaf untuk kedua kalinya. Ia mengaku lupa tentang perjanjian awalnya dengan Nabi Khidir. Kali ini Nabi Musa berjanji untuk bersabar dan tidak akan bertanya lagi. Setelah membunuh, Nabi Khidir meneruskan perjalanannya bersama Nabi Musa. Keduanya memasuki sebuah desa yang penduduknya terkenal sangat pelit. Nabi Musa bertanya dalam hati, kenapa Nabi Khidir mengajaknya ke tempat ini. Sebenarnya Nabi Khidir mengetahui keluhan Nabi Musa. Sebab, Nabi Khidir telah dikaruniai oleh Allah SWT bisa membaca dan mendengar isi hati orang lain. Namun Nabi Khidir diam saja.
Keduanya singgah di desa itu. Rupanya bekal yang dibawa Nabi Musa sudah habis. Nabi Musa memberanikan diri meminta makanan kepada para penduduk, tetapi tidak ada yang mau memberinya. Para penduduk sepertinya cuek saja dengan kehadiran keduanya. Saat itu di tengah perkampungan ada satu rumah yang dindingnya hampir ambruk. Anehnya para penduduk cuma melihatnya, tidak ada yang mau memperbaikinya. Nabi Khidir kemudian memperbaikinya sendirian hingga malam menjelang.
“Kenapa kamu tidak meminta bayaran kepada pemilik rumah itu?” celetuk Nabi Musa. “Kebiasan di kampung saya, jika ada orang yang memperbaiki rumah orang lain, maka ia akan mendapat imbalan,” lanjut Nabi Musa, geram.
“Seharusnya kamu diam saja dengan apa yang kukerjakan. Kini saatnya untuk berpisah antara dirimu dengan diriku,” tukas Nabi Khidir setelah mendengar perkataan Nabi Musa. “Tetapi sebelum pergi, aku akan memberitahumu suatu hikmah dibalik semua peristiwa yang telah kulakukan,” tambah Nabi Khidir.

Kisah Agung iskandar Zulkarnain



        Dialah Raja Muslim yang sangat berkuasa namun saleh. Daerah taklukannya membentang dari bumi bagian barat sampai timur. Ia mendapat julukan Iskandar “Zulkarnain”. “Zul”, artinya “memiliki”, Qarnain, artinya “Dua Tanduk”. Maksudnya, Iskandar yang memiliki kekuasaan antara timur dan barat.
      Dia juga telah membangun dinding besar berteknologi tinggi untuk ukuran saat itu, diantara dua Gunung. Para ahli sejarah meyakini, dinding tersebut terbuat dari besi yang dicampur dengan tembaga itu terletak tepat di pengunungan Kaukasus. Daerah itu kini disebut Georgia, negara pecahan Uni Soviet.
Secara topografis, deretan pegunungan Kaukasus itu memang terlihat memanjang dari laut Hitam sampai ke laut Kaspia sepanjang 1.200 kilometer tanpa celah. Kecuali pada bagian kecil sempit yang disebut celah Darial sepanjang 100 Meter kurang lebih. Pada bagian celah itulah Zulkarnain membangun tembok penghalang dari Ya’juj dan Ma’juj.
      Kisah ketokohan Iskandar Zulkarnain ini juga tertulis dalam catatan sejarah orang-orang barat. Dalam catatan tersebut diceritakan bagaimana ia berjaya meluaskan daerah taklukannya dalam masa yang sangat singkat. Oleh karena kejayaannya ini, ia diberi gelar “Alexander The Great”, Alexander Yang Agung”. Belakangan cerita ini diadaptasi ke film layar lebar oleh Sutradara Amerika Serikat, Oliver Stone, dengan judul Alexander The Great.
      Namun cerita dari orang-orang barat tersebut sangat bertentangan dengan yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Para Mufasir menyatakan, “Alexander The Great” adalah orang yang berbeda dengan tokoh yang di tulis dalam Al-Qur’an, Yakni, Iskandar Zulkarnain. Alexander Thr Great itu dalam sejarahnya tidak diberitakan pernah membangun sebuah dinding besar berteknologi tinggi untuk ukuran saat itu, yang terbuat dari besi dicampur tembaga. Bahkan, ia adalah seorang musyrik. Sejarah tidak mencatatnya sebagai seorang Raja Muslim yang taat kepada agama Tauhid.
      Sejarawan Muslim yang juga ahli tafsir, Ibnu Katsir, dalam kitabnya Al-Bidayah Wan Nihayah menjelaskan, meski punya nama yang sama dan plot cerita yang sama, yaitu kekuasaannya membentang dari Barat sampai ke Timur, keduanya adalah sosok yang berbeda. Antara mereka terbentang jarak dan waktu sampai 2000 tahun. “Hanya mereka yang tidak mengerti sejarah yang bisa terkecoh oleh identitas kedua orang itu,” katanya.
      Ibnu Katsir lebih jauh menjelaskan, Zulkarnain adalah nama gelar atau julukan seorang penglima penakluk sekaligus Raja saleh. Karena kesalehannya ia selalu mengajak manusia untuk menyembah Allah. Namun mereka ingkar, malah memukul tanduknya – Qarnun, yaitu rambut kepala yang di ikat – sebelah kanan, hingga ia mati. Lalu Allah menghidupkannya kembali, dan ia pun kembali berdakwah. Tetapi sekali lagi tanduknya yang kiri dipukul, sehingga ia mati lagi. Allah SWT menghidupkannya kembali dan menjulukinya Zulkarnain, pemilik duaTanduk, serta memberinya kekuasaan.


      Cerita yang sama juga di jumpai dalam kitab Jami Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an, karangan Syekh Al-Aiji Asy-Syafi’i. Dalam kitab tersebut disebutkan, Zulkarnain adalah seorang hamba yang taat kepada Allah dan mengajak kaumnya menyembah Allah. Lalu mereka memukul tanduknya yang kanan hingga mati. Kemudian Allah menghidupkannya lagi, dan dia kembali mengajak kaumnya mengesakan Allah. Tetapi mereka malah memukul tanduknya yang kiri hingga mati lagi. Lalu Allah menghidupkannya lagi dan menganugrahinya kekuasaan yang tak tertandingi. Oleh karena itu ia dijuluki Zulkarnain.
      Di samping kedua kitab tersebut, Mufassir Muslim Ibnu Jarir Ath-Thabari juga mengisahkannya dalam kitab tafsir Ath-Thabari. Dikatakan, Iskandar Zulkarnain adalah seorang laki-laki yang berasal dari Romawi, ia anak tunggal seorang yang paling miskin diantara penduduk kota. Namun dalam pergaulan sehari-hari, ia hidup dalam lingkungan kerajaan, bergaul dengan para perwira dan berkawan dengan wanita-wanita yang baik dan berbudi serta berakhlak mulia.
Imam Al-Qurtubi dalam kitab tafsir Al-Qur’annya yang populer, Tafsir Al-Qurtubi, menceritakan, sejak masih kecil dan masa pertumbuhannya Iskandar berakhlak mulia. Melakukan hal-hal yang baik sehingga terangkat nama baiknya. Ia juga menjadi mulia di kalangan kaumnya, sehingga Allah berkenan memberinya kewibawaan.

      Setelah mencapai usia akil balig, Iskandar menjadi seorang hamba yang saleh, sehingga Allah Berfirman, “Wahai Zulkarnain, Sesungguhnya aku mengutusmu kepada umat-umat di bumi. Mereka adalah umat yang berbeda-beda bahasanya dan mereka adalah umat yang berada disegala penjuru bumi. Mereka terbagi dalam beberapa golongan.”
Mendapat amanat tersebut, Zulkarnain lalu berkata, “Wahai Tuhanku, Engkau telah menugasiku melakukan seuatu hal yang aku tidak kuasa melakukannya kecuali engkau sendiri, maka beritahukan kepadaku tentang umat-umat itu, dengan kekuatan apa aku bisa melawan mereka? Dengan kesabaran apa aku bisa menahan mereka? Dan dengan bahasa apa aku harus bicara dengan mereka? Bagaimana pula aku bisa memahami bahasa mereka sedangkan aku tidak mempunyai kemampuan.”


      Kemudian Allah SWT berfirman”Aku membebanimu sesuatu yang kamu mampu melakukannya, aku akan melapangkan pendengaran dan dadamu hingga kamu bisa mendengar dan memperhatikan segala sesuatu. Memudahkan pemahamanmu sehingga kamu bisa memahami segala sesuatu, meudahkan lidahmu, hingga kamu bisa berbicara tentang sesuatu, membukakan penglihatanmu, sehingga kamu bisa melihat segala sesuatu, melipatgandakan kekuatanmu hingga tak terkalahkan oleh sesuatu apapun, menyingsingkan lenganmu, hingga tidak ada sesuatupun yang berani meyerangmu, menguatkan hatimu, hingga kamu tidak takut pada apapun, menguatkan kedua tanganmu hingga kamu bisa menguasai segala sesuatu, menguatkan pijakanmu hingga kamu bisa mengatasi segala sesuatu, memberimu kemuliaan hingga tidak ada apapun yang menakutimu, menundukkan untukmu cahaya dan kegelapan dan menjadikan salah satu tentaramu. Cahaya itu akan menjadi petunjuk di depanmu, dan kegelapan itu akan berkeliling di belakangmu.
Sejak kecil, Iskandar sudah tidak senang melihat peperangan antara timur, yaitu kerajaan Persia, dan Barat, Kerajaan Romawi. Perang itu tak ada hentinya dari tahun ke tahun, malah dari abad ke abad. Ribuan manusia tewas, kerugian harta benda tak terhitung lagi jumlahnya, apalagi kerusakan lingkungan hidup, merugikan manusia itu sendiri.
      Untuk menghentikan permusuhan antara timur dan barat, Iskandar bercita-cita mendirikan sebuah kerajaan yang dapat menyatukan wilayah timur dan barat.
Iskandar pun tumbuh menjadi manusia dewasa yang saleh, berakhlak dan berbudi tinggi. Atas segala kesalehannya itu, Allah mengaruniakan kepadanya segala kelebihan yang dimiliki oleh seorang pemimpin, lalu Allah memerintahkan untuk menyeru manusia kepada agama tauhid.
      Mula-mula dengan tentaranya yang lengkap dan kuat, dia menuju ke barat wilaya Maroko, tempat terbenamnya matahari. Dilihatnya matahari itu terbenam di mata air yang berlumpur, lautan Atlantik sekarang ini.
Di situ ia bertemu dengan bangsa yang senantiasa berbuat kerusakan dan kejahatan. Bukan saja merusak permukaan bumi dan mengacaukannya, tetapi juga sudah menjadi tabiat mereka suka membunuh orang-orang yang tidak bersalah sekalipun. Bahkan mereka tidak beragama.
      Sebelum melakukan tindakan, terlebih dahulu Iskandar menadahkan tangannya ke langit, memohon petunjuk kepada Allah, tindakan apa sebaiknya yang harus dilakukan terhadap bangsa yang begitu kejam, apakah bangsa itu akan digempurnya habis-habisan, atau akan dibiarkan begitu saja?
Allah lalu memberinya dua pilihan: digempur habis-habisan sebagai balasan atas kekejaman mereka, atau di ajar dan didik agar mereka kembali kepada kebenaran dan menyembah Allah serta meninggalkan segala kejahatan.
Iskandar Zulkarnain memutuskan menggempur mereka yang durhaka dan jahat, sedangkan orang yang baik akan dilindungi. Sebelumnya ia berkata kepada bangsa tersebut, “Siapa yang aniaya, akan kami siksa dan dikembalikan kepada Tuhan, agar Tuhan memberikan siksa yang lebih pedih lagi. Adapun orang-orang yang saleh dan baik, akan kami lindungi, dan kepadanya kami hanya akan memerintahkan kewajiban-kewajiban yang ringan.”


      Kemudian tentaranya bergerak menewaskan setiap orang yang kejam, melindungi setiap orang yang baik. Akhirnya negeri itu dapat diamankan dan di tentramkan serta di atur sebaik-sebaiknya, penuh dengan kehidupan bahagia dan makmur,
Setelah selesai menunaikan kewajiban terhadap bangsa dan negeri itu, Iskandar dengan tentaranya menuju ke arah timur, India. Dilihatnya matahari di atas bangsa yang musyrik, yang menyembah banyak tuhan, yaitu bangsa Hindustan.
Bangsa dan negeri itu pun dapat ditaklukkan, diamankan dan ditentramkannya, serta diatur sebaik-baiknya sehingga setiap orang dapat merasakan hidup aman, tentram dan bahagia. Bangsa itu juga dapat dikeluarkan dari lembah kesesatan.
       Selesailah sudah kewajibannya terhadap bangsa dan negeri itu. Ia lalu menuju ke utara, negeri Armenia, melalui Persia dan Azarbaijan. Kemenangan demi kemenangan dicapainya selama dalam perjalanan itu, akhirnya sampailah di suatu tempat, di sana ia bertemu dengan suatu bangsa yang selalu dalam ketakutan dan ke khawatiran, karena ternyata negeri itu berbatasan dengan bangsa Ya’juj dan Ma’juj yang terkenal kuat dan kejam. Bukan sekali dua kali saja, tetapi seringkali bangsa Ya’juj dan Ma;juj itu datang menyerang mereka, menghancurkan apa saja yang didapatinya dan membunuh siapa saja yang dijumpainya.
Kedatangan Iskandar ini, mereka sambut dengan segala kehormatan dan kegembiraan, karena mereka tahu dari kabar yang beredar bahwa Iskandar adalah Raja yang kuat dan paling adil di muka bumi ini.
Lalu mereka meminta bantuan kepada Iskandar, agar dilindungi dari serangan Ya’juj dan Ma’juj. Mereka memohon supaya antara negeri mereka dan negeri Ya’juj dan Ma’juj dibangun dinding raksasa yang tidak dapat ditembus. Sebagai imbalannya mereka sanggup membayar mahal Iskandar.
      Mendengar permohonan itu, Iskandar Zulkarnain menjawab, “Saya tidak mengharapkan upah dari kalian, nikmat dan pemberian Tuhanku lebih berharga daripada upah itu. Hanya kepada kalian saya minta kaum pekerja dan alat-alatnya: besi, tembaga, arang batu dan kayu.”
Setelah semuanya terkumpul, ia mulai bekerja dengan bantuan para pekerja. Mula-mula menyalakan api dengan kayu dan arang batu, diambilnya besi, lalu dileburkannya dengan api, setelah besi itu mencair, dituangkannya tembaga, dan diaduk menjadi satu. Dengan bahan campuran inilah di dirikan dinding raksasa antara negeri itu dan negeri Ya’juj dan Ma’juj. Dinding besi raksasa itu tidak dapat di tembus dan di lubangi oleh siapapun dan oleh apapun.
“Dinding ini adalah rahmat dari Tuhan kepada kalian, hanya tuhanlah yang dapat menembus dinding ini, jika dikehendakinya,” kata Iskandar. Maka aman dan tentramlah negeri tersebut.
       Iskandar Zulkarnain dapat menaklukkan negeri-negeri yang terbentang antara timur dan barat. Dengan demikian cita-citanya untuk mempersatukan kerajaan di timur dan barat tercapai. Negeri yang berada di bawah kekuasaannya, antara lain Maroko, Romawi, Yunani, Mesir, Persia dan India.
      Berkat ilmu dan pengetahuannya yang luas, serta dasar ketuhanan yang selalu dipagang teguh dalam mendirikan kerajaan yang besar itu. Penduduknya hidup dengan aman, tentrem dan makmur. Kebesaran dan kejayaan itu tidak membuatnya buta dan lupa akan nikmat yang diberikan Allah SWT.
      Menurut Khair Ramdhan Yusuf, dalam bukunya Iskandar Zulkarnain, Panglima Perang, penakluk dan pemerintah yang saleh, kajian terperinci menurut Al-Qur’an, Sunah dan Sejarah, terbitan Malaysia, ada empat sosok yang berkaitan dengan nama Iskandar Zulkarnain. Yaitu, Iskandar Macedonia, Zulkarnain Al-Hamiri, Raja Himyar, seorang lelaki saleh pada zaman Nabi Ibrahim, dan Kursh Al-Akhmini Al-Farisi.
      Kendati begitu kita dapat membaca dengan jelas kisah Iskandar Zulkarnain ini dalam Al-Qur’an Surah Al-Kahfi ayat 83 sampai 98, yang artinya, “Mereka akan bertanya kepadamu Muhammad, tentang Zulkarnain. Katakanlah, “Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya.”
      “Sesungguhnya kami telah memberi kekuasaan kepadanya di bumi, dan kami telah menberikan kepadanya jalan untuk mencapai segala sesuatu, maka ia pun menempuh jalan tersebut. Hingga apabila telah sampai ke tempat terbenamnya matahari, ia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan ia mendapatinya di situ segolongan umat”.
Kami berkata, “Hai Zulkarnain kamu boleh menyiksa atau berbuat kebaikan terhadap mereka.”

Berkata Zulkarnain, “Adapun orang yang aniaya, kami kelak akan mengazabnya, kemudian ia kembali kepada Tuhannya, lalu tuhan mengazabnya dengan azab yang tiada taranya. Adapun orang yang beriman dan beramal saleh, baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya yang mudah dari perintah-perintah kami.”
Kemudian ia menempuh jalan lagi, hingga apabila telah sampai ke tempat terbitnya matahari ia mendapati matahari yang menyinari segolongan umat yang kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari matahari itu.”
Demikianlah, dan sesungguhnya ilmu kami meliputi segala apa yang ada padanya, Zulkarnain. Kemudian ia menempuh suatu jalan lagi, sehingga apabila telah sampai diantara dua buah gunung ia mendapati kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan.
      Mereka berkata, “Hai, Zulkarnain sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?”
Zulkarnain berkata, “apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, berilah aku potongan-potongan besi.”
Hingga ketika besi itu telah sama rata dengan kedua gunung itu, berkatalah Zulkarnain, “Tiuplah, dan katika besi itu sudah menjadi api, ia pun berkata, berilah aku tembaga untuk aku tuangkan ke atas besi panas itu.”
Maka mereka, Ya’juj dan Ma’juj tidak bisa mendakinya, dan mereka tidak bisa melubanginya.
Zulkarnain berkata, “Ini adalah rahmat dari Tuhanku. Maka apabila sudah datang janji tuhanku, dia akan menjadikannya hancur luluh, dan janji Tuhanku itu adalah benar.”
      Sungguhpun kekuasaan dan keperkasaannya tak tertandingi, akhlak dan hatinya selembut sutra, hingga karenanya ia mudah menyerap bukti kebenaran Ilahi. Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin, menceritakan, suatu ketika Iskandar Zulkarnain mendatangi suatu kaum yang tidak memiliki harta benda apapun yang bisa di nikmati. Lalu ia mengirim surat kepada Raja mereka dan berpesan agar Raja bersedia membalas suratnya.
Namun Raja itu menolak permintaan Zulkarnain, malah sebaliknya, ia berkata, jika Zulkarnain merasa ada kepentingan dengannya, sebaiknya dialah yang datang menemuinya.
      Maka Zulkarnain pun pergi menemui Raja mareka, “Aku telah mengirimkan surat kepadamu dan memintamu datang kepadaku, tetapi kamu menolak, maka aku datang kepadamu,” kata Zulkarnain setelah sampai di istana Raja.
Sang Raja pun berkata, “Seandainya aku membutuhkanmu, aku pasti akan datang kepadamu.”
Sebagaimana jika aku melihatmu berada dalam suatu keadaan yang tak pernah dialami oleh siapapun?” tanya Zulkarnain.
“Apa itu?” sang Raja balik bertanya. “Kalian tidak memiliki harta dunia apapun. Kenapa kalian tidak memiliki emas dan perak hingga kalian bisa menikmatinya?” balas Zulkarnain.
      “Tetapi kami membenci dua hal tersebut, karena seorang tidak mendapat apapun dari emas dan perak itu, kecuali hanya menginginkannya lebih dari itu,” jawab raja itu dengan tangkas.
Zulkarnain melanjutkan pertanyaannya, “Apa maksud kalian menggali kuburan lalu setelah itu kalian menjaganya, membersihkannya, dan sembahyang di sana?”
Raja itu kembali menjawab, “Kami ingin, jika kami memandang kuburan-kuburan itu dan mengharapkan dunia, kuburan-kuburan itu akan menghalangi kami dari harapan itu.”
Zulkarnain bertanya lagi, “Aku melihat kalian tidak memiliki makanan kecuali sayur sayuran, kenapa kalian tidak memiliki hewan ternak, hingga kalian dapat memerah susunya, menungganginya dan menikmatinya?”

      Mereka menjawab, “Kami tidak suka menjadikan perut kami sebagai kuburan bagi binatang itu. Dan kami melihat di dalam tumbuh-tumbuhan itu faedah yang besar. Cukuplah anak adam memiliki kehidupan yang rendah karena makanan. Dan makanan apa saja yang melewati rahang bawah kami rasanya sama saja seperti makanan yang pernah kami makan sebelumnya.”
Setelah Zulkarnain meninggalkan raja itu dengan kagum dan menjadikan penjelasannya sebagai sebuah nasehat yang berharga.
Dalam setiap perjalananya, Zulkarnain selalu memperlakukan bangsa dan suku yang ditaklukkannya dengan amat baik dan santun. Tak mengherankan jika ia menuai kesuksesan dan selalu mendapatkan dukungan dari daerah yang telah di kuasainya.
Selain itu, Zulkarnain juga didampingi seorang penasihat kerajaan yang baik dan sangat luas pengetahuannya, yang tiada lain adalah Nabi Khidir AS.


      Sebagian ulama menyebut, Allah SWT menurunkan wahyu kepada Nabi Khidir AS, lalu mengajarkan Wahyu tersebut kepada Zulkarnain.
Seorang mufassir lain, Al-Alusi, dalam kitab tafsirnya Ruhul Ma’ani, berkata, “Mungkin Khidir adalah salah satu pembesar kerajaan, seperti perdana mentrinya, karena tidak tertutup kemungkinan bahwa Zulkarnain bermusyawarah dengan orang lain saat menghadapi suatu masalah. Sebab pada saat itu, istilah yang dikenal untuk menyebut orang pandai, termasuk Nabi, adalah “Ahli Hikmah”. selain itu, pada masa-masa dahulu, para Nabi juga sering disebut dengan istilah “Orang bijak,” atau “Hakim”.
Wahab bin Munabbah dalam kitabnya At-Tijan mengisahkan, pada suatu ketika Nabi Khidir AS berkata kepada Zulkarnain, Wahai Tuanku, tuan membawa suatu amanat yang seandainya diberikan kepada langit, langit itu akan runtuh, jika diberikan kepada Gunung, maka Gunung itu akan roboh, dan jika diberikan kepada Bumi, maka bumi itu akan terbelah. Tuanku telah diberi kesabaran dan kemenangan. Tuanku akan melihat suatu kaum yang menyembah sesama manusia dan mereka adalah musuh-musuh Allah, yaitu Ya’juj dan Ma’juj. Allah adalah penuntut tidak akan terkelabui oleh orang-orang yang melarikan diri, dan tidak akan dikalahkan oleh orang yang “Menang”.
Kata Nabi Khidir lagi, “Wahai tuanku, ambillah apa yang telah diberikan Allah SWT kepada tuan dengan keteguhan hati dan sungguh-sungguh. Jadikanlah kesabaran sebagai pakaian, kebenaran sebagai pegangan hidup, dan takut kepada Allah sebagai perlindungan yang menumbuhkan amal pada tuan, dan tuan akan tenang dari ketakutan akan datangnya ajal. Ambillah pedang Allah dengan tangan tuan, karena tidak ada orang yang dapat menolong dan tidak ada orang yang dapat mencegah kemenangan. Cukuplah bagi tuan, Allah sebagai penolong tuan.”


      Dalam Almuhadlarah al-Awali, kitab yang dikutip Ibnu Katsir, disebutkan, suatu ketika Nabi Ibrahim AS bertemu dengan Zulkarnain di Mekah. Nabi Ibrahim Memeluk dan menjabat tangan Zulkarnain serta memberinya bendera. Lalu ia mengikuti syariat yang dibawa oleh Nabi itu dan menyeru kepada manusia agar berpegang teguh pada syariat tersebut.
Hal ini dikuatkan kembali oleh sebuah hadis yang diriwayatkan oleh salah seorang sahabat Nabi SAW, Ubaid bin Umair dan anaknya, Abdullah, yang menyatakan, selama masa jayanya, Iskandar Zulkarnain pernah melaksanakan haji dengan berjalan kaki. ketika Nabi Ibrahim mendengar berita tersebut, beliau menemuinya seraya menyeru kepada agama Tauhid dan memberikan beberapa nasehat. Nabi Ibrahim juga membawakan Zulkarnain seekor kuda agar dinaikinya. Akan tetapi Zulkarnain menolak, seraya berkata, “Saya tidak akan menaiki suatu kendaraan di suatu tempat yang di dalamnya ada Ibrahim Al-Khalil, yang dikasihi Allah.



”  Wallahu a'lambishowaf...

Sejarah Haditsul Ifki

Dalam perjalanan pulang kaum Muslimin dari perang Bani Mustahliq inilah tersiar berita bohong bertujuan merusak keluarga Nabi saw. Berikut ini kami kemukakan ringkasan dari riwayat yang tertera di dalam Ash-Shahihain.
Aisyah ra meriwayatkan bahwa dalam perjalanan ini ia ikut keluar bersama Rasulullah saw. Aisyah ra berkata: “Setelah selesai dari peperangan ini Rasulullah saw bergegas pulang dan memerintahkan orang-orang agar segera berangkat di malam hari. Di saat semua orang sedang berkemas-kemas hendak berangkat, aku keluar untuk membuang hajat, aku terus kembali hendak bergabung dengan rombongan. Pada saat itu kuraba-raba kalung leherku, ternyata sudah tak ada lagi. Aku lalu kembali lagi ke tempat aku membuang hajatku tadi untuk mencari-cari kalung hingga dapat kutemukan kembali.
Di saat aku sedang mencari-cari kalung, datanglah orang-orang yang bertugas melayani unta tungganganku. Mereka sudah siap segala-galanya. Mereka menduga aku berada di dalam haudaj (rumah kecil terpasang di atas punggung unta) sebagaimana dalam perjalanan, oleh sebab itu haudaj lalu mereka angkat kemudian diikatkan pada punggung unta. Mereka sama sekali tidak menduga bahwa aku tidak berada di dalam haudaj. Karena itu mereka segera memegang tali kekang unta lalu mulai berangkat …!
Ketika aku kembali ke tempat perkemahan, tidak aku jumpai seorang pun yang masih tinggal. Semuanya telah berangkat. Dengan berselimut jilbab aku berbaring di tempat itu. Aku berfikir, pada saat mereka mencari-cari aku tentu mereka akan kembali lagi ke tempatku. Demi Allah, di saat aku sedang berbaring, tiba-tiba Shafwan bin Mu‘atthal lewat. Agaknya ia bertugas di belakang pasukan. Dari kejauhan ia melihat bayang-bayangku. Ia mendekat lalu berdiri di depanku, ia sudah mengenal dan melihatku sebelum kaum wanita dikenakan wajib berhijab. Ketika melihatku ia berucap: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un! Istri Rasulullah?“ Aku pun terbangun oleh ucapan itu. Aku tetap menutup diriku dengan jilbabku .. Demi Allah, kami tidak mengucapkan satu kalimat pun dan aku tidak mendengar ucapan darinya kecuali ucapan Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un itu. Kemudian dia merendahkan untanya lalu aku menaikinya. Ia berangkat menuntun unta kendaraan yang aku naiki sampai kami datang di Nahri Adh-Dhahirah tempat pasukan turun istirahat. Di sinilah mulai tersiar fitnah tentang diriku. Fitnah ini berumber dari mulut Abdullah bin Ubay bin Salul.
Aisyah ra melanjutkan : Setibanya di Madinah kesehatanku terganggu selama sebulan. Saat itu rupanya orang-orang sudah banyak berdesas-desus berita bohong itu, sementara aku belum mendengar sesuatu mengenainya. Hanya saja aku tidak melihat kelembutan dari Rasulullah saw, yang biasa kurasakan ketika aku sakit. Beliau hanya masuk lalu mengucapkan salam dan bertanya: “Bagaimana keadaanmu?“ Setelah agak sehat aku keluar pada suatu malam bersama Ummu Mastha untuk membuang hajat. Waktu itu kami belum membuat kakus. Di saat kami pulang, tiba-tiba kaki Ummu Mastha terantuk sehingga kesakitan dan terlontar ucapan dari mulutnya: “Celaka si Masthah!“ Ia kutegur: “Alangkah buruknya ucapanmu itu mengenai seorang dari kaum Muhajirin yang turut serta dalam perang Badr?“ Ummu Mastha bertanya :“Apakah anda tidak mendengar apa yang dikatakannya?“ Aisyah ra melanjutkan: Ia kemudian menceritakan kepadaku tentang berita bohong yang tersiar sehingga sakitku bertambah parah … Malam itu aku menangis hingga pagi hari, air mataku terus menetes dan aku tidak dapat tidur.
Kemudian Rasulullah saw mulai meminta pandangan para sahabatnya mengenai masalah ini. Di antara mereka ada yang berkata: “Wahai Rasulullah mereka (para istri Nabi) adalah keluargamu. Kami tidak mengetahui kecuali kebaikan.“ Dan ada pula yang mengatakan: “Engkau tak perlu bersedih, masih banyak wanita (lainnya). Tanyakan hal itu kepada pelayan perempuan (maksudnya Barirah). Ia pasti memberi keterangan yang benar kepada anda!“
Rasulullah saw lalu memanggil pelayan perempuan bernama Barirah, dan bertanya: “Apakah kamu melihat sesuatu yang mencurigakan dari Aisyah?“ Ia mengabarkan kepada Nabi saw, bahwa ia tidak mengetahui Aisyah kecuali sebagai orang yang baik-baik. Kemudian Nabi saw berdiri di atas mimbar dan bersabda:
“Wahai kaum Muslimin! Siapa yang akan membelaku dari seorang lelaki yang telah menyakiti keluargaku? Demi Allah, aku tidak mengetahui dari keluargaku kecuali yang baik. Sesungguhnya mereka telah menyebutkan seorang lelaki yang aku tidak mengenal lelaki itu kecuali sebagai orang yang baik.“
Sa‘ad bin Muadz lalu berdiri seraya berkata: “Aku yang akan membelamu dari orang itu wahai Rasulullah saw! Jika dia dari suku Aus, kami siap penggal lehernya. Jika dia dari saudara kami suku Khazraj maka perintahkanlah kami, kami pasti akan melakukannya.“ Maka timbullah keributan di masjid sampai Rasulullah saw meredakan mereka.
Aisyah ra melanjutkan: “Kemudian Rasulullah saw datang ke rumahku. Saat itu ayah-ibuku berada di rumah. Ayah-ibuku menyangka bahwa tangisku telah menghancurluluhkan hatiku. Sejak tersiar berita bohong itu Nabi saw tidak pernah duduk di sisiku. Selama sebulan beliau tidak mendapatkan wahyu tentang diriku. Aisyah ra berkata: “Ketika duduk Nabi saw membaca puji syukur ke Hadirat Allah swt lalu bersabda: “Hai Aisyah, aku telah mendengar mengenai apa yang dibicarakan orang tentang dirimu. Jika engkau tidak bersalah maka Allah swt, pasti akan membebaskan dirimu. Jika engkau telah melakukan dosa maka mintalah ampunan kepada Allah swt dan taubatlah kepada-Nya.“ Seusai Rasulullah saw mengucapkan ucapan itu, tanpa kurasakan air mataku tambah bercucuran. Kemudian aku katakan kepada ayahku: “Berilah jawaban kepada Rasulullah saw mengenai diriku“ Ayahku menjawab: “Demi Allah, aku tidak tahu bagaimana harus menjawab.“ Aku katakan pula kepada ibuku: “Berilah jawaban mengenai diriku.“ Dia pun menjawab: “Demi Allah aku tidak tahu bagaimana harus menjawab:“ Lalu aku berkata: “Demi Allah, sesungguhnya kalian telah mendengar hal itu sehingga kalian telah membenarkannya. Jika aku katakan kepada kalian bahwa aku tidak bersalah Allah Maha Mengetahui bahwa aku tidak bersalah kalian pasti tidak akan membenarkannya. Jika aku mengakuinya Allah Maha Mengetahui bahwa aku tidak bersalah, pasti kalian akan membenarkan aku. Demi Allah aku tidak menemukan perumpamaan untuk diriku dan kalian kecuali sebagaimana yang dikatkaan oleh bapak Nabi Yusuf as :
“Sebaiknya aku bersabar. Kepada Allah swt sajalah aku mohon pertolongan atas apa yang kalian lukiskan,“
QS Yusuf : 18
Aisyah ra berkata : Kemudian aku pindah dan berbaring di tempat tidurku.
Selanjutnya Aisyah berkata: Demi Allah, Rasulullah saw belum bergerak dari tempat duduknya, juga belum ada seorang pun dari penghuni rumah yang keluar sehingga Allah menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya. Beliau tampak lemah lunglai seperti biasanya tiap hendak menerima wahyu Ilahi, keringatnya bercucuran karena beratnya wahyu yang diturunkan kepadanya. Aisyah berkata: Kemudian keringat mulai berkurang dari badan Rasulullah saw lalu beliau tampak tersenyum. Ucapan yan pertama kali terdengar ialah: “Bergembiralah wahai Aisyah, sesungguhnya Allah telah membebaskan kamu.“ Kemudian ibuku berkata: “Berdirilah (berterimahkasihlah) kepadanya.“ Aku jawab :
“Tidak! Demi Allah, aku tidak akan berdiri (berterima kasih) kepadanya (Nabi saw) dan aku tidak akan memuji kecuali Allah. Karena Dialah yang telah menurunkan pembebasanku.“
Aisyah ra berkata: Kemudian Allah menurunkan firman-Nya :
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar…. Sampai dengan ayat 21 … „ QS an-Nur : 11-21
Aisyah melanjutkan: Sebelum peristiwa ini ayahku membiayai Mastha karena kekerabatan dan kemiskinannya. Tetapi setelah peristiwa ini ayahku berkata: Demi Allah, saya tidak akan membiayainya lagi karena ucapan yang diucapkan kepada Aisyah. Kemudian Allah menurunkan firman-Nya :
“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya). Orang –orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.“ QS An-Nur : 22
Lalu Abu Bakar berkata : Demi Allah, sungguh aku ingin mendapatkan ampun Allah. Kemudian ia kembali membiayai Masthah.
Kemudian Nabi saw keluar dan menyampaikan khutbah kepada orang-orang dan membacakan ayat-ayat al-Quran yang telah diturunkan mengenai masalah ini. Selanjutnya Nabi saw memerintahkan supaya dilakukan hukum hadd (dera) kepada Masthah bin Utsatsah, Hasan bin Tsabit dan Hamnah binti Jahsy karena mereka termasuk orang-orang yang ikut menyebarluaskan desas-desus berita fitnah tersebut.
Beberapa ibrah :
Berikut ini kami kutipkan apa yang dikatakan oleh Dr. Muhammad Abdullah Duraz di dalam kitabnya : An-Naba‘ul Azhim, menjelaskan hakekat ini: “Tidakah kaum Munafiq geram dengan membuat berita bohong tentang istri Nabi saw, Aisyah ra, Sementara wahyu pun diperlambat penurunannya sekian lama dan orang-orang pun ramai membicarakan, sampai hati terasa telah mencapai kerongkongan. Sedangkan Nabi saw sendiri tidak dapat bertindak apa-apa kecuali berkata dengan penuh hati-hati: “Saya tidak mengetahui Aisyah kecuali orang yang baik-baik.“ Kemudian setelah berusaha secara maksimal dengan bertanya dan meminta pandangan para sahabatnya, setelah lewat sebulan penuh dan orang-orang pun telah menyatakan: “Kami tidak melihat adanya kejahatan sedikit pun pada dirinya (Aisyah ra), Nabi saw masih tetap tidak melakukan tindakan apa-apa kecuali berkata kepadanya :
“Hai, Aisyah! Aku telah mendengar tentang apa yang digunjingkan orang tentang dirimu. Jika engkau tidak bersalah maka Allah pasti akan membebaskan dirimu. Jika engkau telah melakukan dosa maka mintalah ampunan kepada Allah!“.
Ucapan ini merupakan cetusan kata hatinya. Ia adalah ungkapan seorang yang tidak mengetahui alam ghaib dan ucapan orang yang jujur, yang tidak memperturutkan prasangka dan tidak mengatakan sesuatu yang tidak diketahuinya. Setelah mengucapkan kalimat tersebut dan belum sempat beranjak dair tempat duduknya, turunlah awal surat An-Nur yang menjelaskan ketidak-bersalahan Aisyah ra dan menyatakan kesuciannya.
Apakah kiranya yang menghalangi Nabi saw untuk menyatakan ketidak-bersalahan Aisyah sejak hari pertama dan mengatakan sebagai wahyu dari langit, guna membantah para pendusta itu? Tetapi, dia tidak pernah punya niat untuk berdusta kepada manusia dan Allah :
“Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pedang dia pada tangan kanannya. Kemudian sekali-kali tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami) dari pemotongan urat nadi itu.“ QS al-Haaqqah : 44-47
Adakah Aisyah ra orang yang pertama kali memahami kedua hakekat ini, sehingga segera mentauhidkan Allah dan memberikan ubudiyah hanya kepada-Nya dengan melupakan segala sesuatu dan siapa pun selain-Nya. Oleh karena itu, dia menjawab ibunya ketika meminta agar dia berdiri mengucapkan terimah kasih kepada Nabi saw, seraya berkata: “Aku tidak akan berdiri (berterima kasih) kepadanya dan aku tidak akan memuji kecuali kepada Allah, karena Dia-lah yang membebaskan aku.“
Pernyataan Aisyah ra sepintas tampak kurang layak diucapkan di hadapan Nabi saw. Tetapi situasi dan kondisi pada saati itu mendorong keluarnya ucapan tersebut. Penuturan kalimat itu keluar atas dorongan keadaan yang telah dibentuk oelh Hikmah Ilahiyah untuk memperteguh Aqidah kaum Muslimin dan membantah kedustaan orang-orang munafiq, serta menampakkan makna tauhid dan ubudiyah yang utuh kepada Allah semata.
Demikianlah kisah berita bohong ini telah mengandung hikmah Ilahiyah yang bertujuan memantapkan Aqidah Islamiyah dan membersihkan segala bentuk keraguan yang mungkin dapat menyentuhnya. Itulah makna kebaikan yang diungkapkan oleh Allah dalam firman-Nya :
“Janganlah kamu mengira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu.“ QS An-Nur : 11
[Dikutip dari buku Sirah Nabawiyah karangan Dr. Muhammad Sa`id Ramadhan Al Buthy, alih bahasa (penerjemah): Aunur Rafiq Shaleh, terbitan Robbani Press]
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (TQS. An-Nur: 11)

Berita bohong ini mengenai istri Rasulullah saw, 'Aisyah r.a Ummul Mukminin, sehabis perang dengan Bani Mushtaliq bulan Sya'ban tahun ke-5 Hijriyah. Perperangan ini diikuti oleh kaum munafik, dan turut pula 'Aisyah dengan Nabi saw berdasarkan undian yang diadakan antara istri-istri beliau.

Dalam perjalanan mereka kembali dari peperangan, mereka berhenti pada suatu tempat. 'Aisyah keluar dari  haudaj (rumah kecil terpasang di atas punggung unta) untuk suatu keperluan, kemudian kembali. Tiba-tiba dia merasa kalungnya hilang, lalu dia pergi lagi mencarinya. Sementara itu, rombongan berangkat dengan persangkaan bahwa 'Aisyah masih ada dalam haudaj tersebut.

Setelah 'Aisyah mengetahui haudajnya sudah berangkat, maka dia duduk di tempatnya berselimutkan jilbab dan mengharapkan haudaj itu akan kembali menjemputnya. Kemudian, lewat ditempat itu seorang sahabat Nabi yang ditugaskan di belakang pasukan, Shafwan Ibnu Mu'aththal. Demi melihat seseorang sedang tidur sendirian Shafwan terkejut seraya mengucapkan: "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, istri Rasulullah!" 'Aisyah terbangun. Lalu dia dipersilahkan oleh Shafwan mengendarai untanya. Shafwan berjalan menuntun unta sampai mereka tiba di Nahri Adh-Dhahirah tempat pasukan turun istirahat.

Di sinilah mulai tersiar fitnah tentang ‘Aisyah ra. Fitnah ini bersumber dari mulut tokoh munafik Abdullah bin Ubay bin Salul. Orang-orang yang melihat mereka membicarakannya menurut pendapat masing-masing. Kemudian kaum munafik membesar-besarkannya. Maka fitnah atas 'Aisyah ra itupun bertambah luas, sehingga menimbulkan kegoncangan di kalangan kaum muslimin.

Untuk Memperteguh Akidah

Dr. Muhammad Abdullah Duraz di dalam kitabnya, An-Naba‘ul Azhim, seperti dikutip Dr Muhammad Said Ramadhan al-Buthy dalam Fiqh Shirah-nya menjelaskan hakekat peristiwa ini:

“Tidakah kaum munafiq geram dengan membuat berita bohong tentang istri Nabi saw, Aisyah ra, Sementara wahyu pun diperlambat penurunannya sekian lama dan orang-orang pun ramai membicarakan, sampai hati terasa telah mencapai kerongkongan. Sedangkan Nabi saw sendiri tidak dapat bertindak apa-apa kecuali berkata dengan penuh hati-hati: “Saya tidak mengetahui Aisyah kecuali orang yang baik-baik.“ Kemudian setelah berusaha secara maksimal dengan bertanya dan meminta pandangan para sahabatnya, setelah lewat sebulan penuh dan orang-orang pun telah menyatakan: “Kami tidak melihat adanya kejahatan sedikit pun pada dirinya (Aisyah ra), Nabi saw masih tetap tidak melakukan tindakan apa-apa kecuali berkata kepadanya :

“Hai, Aisyah! Aku telah mendengar tentang apa yang digunjingkan orang tentang dirimu. Jika engkau tidak bersalah maka Allah pasti akan membebaskan dirimu. Jika engkau telah melakukan dosa maka mintalah ampunan kepada Allah!“.

Ucapan ini merupakan cetusan kata hatinya. Ia adalah ungkapan seorang yang tidak mengetahui alam ghaib dan ucapan orang yang jujur, yang tidak memperturutkan prasangka dan tidak mengatakan sesuatu yang tidak diketahuinya. Setelah mengucapkan kalimat tersebut dan belum sempat beranjak dair tempat duduknya, turunlah awal surat An-Nur yang menjelaskan ketidak-bersalahan Aisyah ra dan menyatakan kesuciannya.

Apakah kiranya yang menghalangi Nabi saw untuk menyatakan ketidak-bersalahan Aisyah sejak hari pertama dan mengatakan sebagai wahyu dari langit, guna membantah para pendusta itu? Tetapi, dia tidak pernah punya niat untuk berdusta kepada manusia dan Allah :

“Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pedang dia pada tangan kanannya. Kemudian sekali-kali tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami) dari pemotongan urat nadi itu.“
(TQS al-Haaqqah : 44-47)

Adakah Aisyah ra orang yang pertama kali memahami kedua hakekat ini, sehingga segera mentauhidkan Allah dan memberikan ubudiyah hanya kepada-Nya dengan melupakan segala sesuatu dan siapa pun selain-Nya. Oleh karena itu, dia menjawab ibunya ketika meminta agar dia berdiri mengucapkan terimah kasih kepada Nabi saw, seraya berkata: “Aku tidak akan berdiri (berterima kasih) kepadanya dan aku tidak akan memuji kecuali kepada Allah, karena Dia-lah yang membebaskan aku.“

Pernyataan Aisyah ra sepintas tampak kurang layak diucapkan di hadapan Nabi saw. Tetapi situasi dan kondisi pada saat itu mendorong keluarnya ucapan tersebut. Penuturan kalimat itu keluar atas dorongan keadaan yang telah dibentuk oleh hikmah Ilahiyah untuk memperteguh akidah kaum Muslimin dan membantah kedustaan orang-orang munafik, serta menampakkan makna tauhid dan ubudiyah yang utuh kepada Allah semata.

Demikianlah kisah berita bohong ini telah mengandung hikmah Ilahiyah yang bertujuan memantapkan aqidah Islamiyah dan membersihkan segala bentuk keraguan yang mungkin dapat menyentuhnya. Itulah makna kebaikan yang diungkapkan oleh Allah dalam firman-Nya: “Janganlah kamu mengira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu.“ (TQS An-Nur : 11). Wallahu a’lam bissawab.

Nabi dan Rasul Selain yang Wajib Diketahui

Nama 313 Rasul Dan 25 Nabi,Melengkapi keyakinan dan iman kepada Rasul Allah, bahwa jumlah Nabi dan Rasul yang diketahui umat Islam ada perbedaan, satu kalangan hanya meyakini 25 Nabi dan Rasul, satu kalangan meyakini ada 124.000 Nabi dan 313 Rasul. Satu kesepahaman bahwa Nabi dan Rasul yang pertama adalah Nabi Adam AS, dan Nabi dan Rasul yang terakhir adalah Nabi Muhammad SAW.
Nabi seorang laki-laki yang diutus Allah SWT dan mendapatkan wahyu, tidak wajib menyampaikan kepada umatnya, sedang Rasul laki-laki yang diutus Allah SWT, diberi wahyu, dan wajib menyampaikan risalah kepada umatnya. Seorang Rasul otomatis seorang Nabi. Tidak ada satu umatpun di dunia ini yang tidak diutus kepada mereka seorang Nabi. Sifat Wajib Rasul ada 4 (Shidiq, Amanah, Tabligh, Fathonah), sifat mustahilnya ada 4, sifat jaiz/bolehnya ada 1.
Bagi seorang muslim wajib mengetahui 25 Nabi dan Rasul karena ke-25 itu tersebut di dalam Al Qur’an, namun jumlah Nabi tidak hanya 25 melainkan 124.000 Nabi, jumlah Rasul juga tidak hanya 25 tapi sebanyak 313 ada juga yang meriwayatkan 315. Kita sering mendengar atau mendapatkan kisah selain 25 Nabi dan Rasul itu, seperti Nabi SYITS AS putra Nabi Adam AS, Nabi KHIDIR AS seorang guru Nabi Musa AS, Nabi SAMUEL AS yang mengkhabarkan kedatangan pemimpin Bani Israel yaitu Thalut untuk melawan Jalut, Nabi UZAIR AS yang dimatikan selama 100 tahun kemudian dihidupkan lagi oleh ALLAH SWT, dan Nabi-Nabi yang lain.
Namun bagi seorang muslim Sunni hanya diwajibkan mengetahui 25 Nabi dan Rasul karena nama-namanya tersebut dalam Al Qur’an yang artinya dalam kisah mereka penuh hikmah yang seharusnya seorang muslim mengetahuinya untuk pengajaran. Walaupun begitu mengetahui kisah Nabi dan rasul yang lain adalah baik agar nampak kebesaran Tuhan dalam membimbing hamba-hambaNya. Nabi dan rasul adalah cahaya ilahi penerang kegelapan bagi hambaNya di dunia ini.
Nama – nama 25 Nabi dan Rasul yang wajib diketahui:
  • Nabi Adam a.s.
  • Nabi Idris a.s.
  • Nabi Nuh a.s.
  • Nabi Hud a.s.
  • Nabi Saleh a.s.
  • Nabi Ibrahim a.s.
  • Nabi Luth a.s.
  • Nabi Ismail a.s.
  • Nabi Ishaq a.s.
  • Nabi Ya’qub a.s.
  • Nabi Yusuf a.s.
  • Nabi Ayub a.s.
  • Nabi Zulkifli a.s.
  • Nabi Syu’aib a.s.
  • Nabi Musa a.s.
  • Nabi Harun a.s.
  • Nabi Daud a.s.
  • Nabi Sulaiman a.s.
  • Nabi Ilyas a.s.
  • Nabi Ilyasa a.s.
  • Nabi Yunus a.s.
  • Nabi Zakaria a.s.
  • Nabi Yahya a.s.
  • Nabi Isa a.s.
  • Nabi Muhammad SAW
Nama 313 Rasul
Nama Rasul (1 s.d 105)Nama Rasul (106 s.d 209)Nama Rasul AS (210 s.d 313)
1 Adam106 Imshon210 Saalum
2 Tsits107 Kabiir211 Asyh
3 Anuwsy108 Saabath212 Harooban
4 Qiynaaq109 Ibaad213 Jaabuk
5 Mahyaa’iyl110 Basylakh214 Aabuj
6 Akhnuwkh111 Rihaan215 Miynats
7 Idris112 Imdan216 Qoonukh
8 Mutawatsilakh113 Mirqoon217 Dirbaan
9 Nuh114 Hanaan218 Shokhim
10 Hud115 Lawhaan219 Haaridh
11 Abhaf116 Walum220 Haarodh
12 Murdaaziyman117 Ba’yul221 Harqiil
13 Tsari’118 Bishosh222 Nu’man
14 Sholeh119 Hibaan223 Azmiil
15 Arfakhtsyad120 Afliq224 Murohhim
16 Shofwaan121 Qoozim225 Midaas
17 Handholah122 Ludhoyr226 Yanuuh
18 Luth123 Wariisa227 Yunus
19 Ishoon124 Midh’as228 SaaSaan
20 Ibrahim125 Hudzamah229 Furyum
21 Isma’il126 Syarwahil230 Farbusy
22 Ishaq127 Ma’na’il231 Shohib
23 Ya’qub128 Mudrik232 Ruknu
24 Yusuf129 Hariim233 Aamir
25 Tsama’il130 Baarigh234 Sahnaq
26 Tsu’ayb131 Harmiil235 Zakhun
27 Musa132 Jaabadz236 Hiinyam
28 Luthoon133 Dzarqon237 Iyaab
29 Ya’wa134 Ushfun238 Shibah
30 Harun135 Barjaaj239 Arofun
31 Kaylun136 Naawi240 Mikhlad
32 Yusya’137 Hazruyiin241 Marhum
33 Daaniyaal138 Isybiil242 Shonid
34 Bunasy139 Ithoof243 Gholib
35 Balyaa140 Mahiil244 Abdullah
36 Armiyaa141 Zanjiil245 Adruzin
37 Yunus142 Tsamithon246 Idasaan
38 Ilyas143 Alqowm247 Zahron
39 Sulaiman144 Hawbalad248 Bayi’
40 Daud145 Solih249 Nuzhoyr
41 Ilyasa’146 Saanukh250 Hawziban
42 Ayub147 Raamiil251 Kaayiwuasyim
43 A’us148 Zaamiil252 Fatwan
44 Dzanin149 Qoosim253 Aabun
45 Alhami’150 Baayil254 Rabakh
46 Tsabits151 Yaazil255 Shoobih
47 Ghobir152 Kablaan256 Musalun
48 Hamilan153 Baatir257 Hijaan
49 Dzulkifli154 Haajim258 Rawbal
50 Uzair155 Jaawih259 Rabuun
51 Azkolan156 Jaamir260 Mu’iilan
52 Izan157 Haajin261 Saabi’an
53 Alwun158 Raasil262 Arjiil
54 Zayin159 Waasim263 Bayaghiin
55 Aazim160 Raadan264 Mutadhih
56 Harbad161 Saadim265 Rahiin
57 Syadzun162 Syu’tsan266 Mihros
58 Sa’ad163 Jaazaan267 Saahin
59 Gholib164 Shoohid268 Hirfaan
60 Syamaas165 Shohban269 Mahmuun
61 Syam’un166 Kalwan270 Hawdhoon
62 Fiyaadh167 Shoo’id271 Alba’uts
63 Qidhon168 Ghifron272 Wa’id
64 Saarom169 Ghooyir273 Rahbul
65 Ghinadh170 Lahuun274 Biyghon
66 Saanim171 Baldakh275 Batiihun
67 Ardhun172 Haydaan276 Hathobaan
68 Babuzir173 Lawii277 Aamil
69 Kazkol174 Habro’a278 Zahirom
70 Baasil175 Naashii279 Iysaa
71 Baasan176 Haafik280 Shobiyh
72 Lakhin177 Khoofikh281 Yathbu’
73 Ilshots178 Kaashikh282 Jaarih
74 Rasugh179 Laafats283 Shohiyb
75 Rusy’in180 Naayim284 Shihats
76 Alamun181 Haasyim285 Kalamaan
77 Lawqhun182 Hajaam286 Bawumii
78 Barsuwa183 Miyzad287 Syumyawun
79 Al’azhim184 Isyamaan288 Arodhun
80 Ratsaad185 Rahiilan289 Hawkhor
81 Syarib186 Lathif290 Yaliyq
82 Habil187 Barthofun291 Bari’
83 Mublan188 A’ban292 Aa’iil
84 Imron189 Awroidh293 Kan’aan
85 Harib190 Muhmuthshir294 Hifdun
86 Jurits191 Aaniin295 Hismaan
87 Tsima’192 Namakh296 Yasma’
88 Dhorikh193 Hunudwal297 Arifur
89 Sifaan194 Mibshol298 Aromin
90 Qubayl195 Mudh’ataam299 Fadh’an
91 Dhofdho196 Thomil300 Fadhhan
92 Ishoon197 Thoobikh301 Shoqhoon
93 Ishof198 Muhmam302 Syam’un
94 Shodif199 Hajrom303 Rishosh
95 Barwa’200 Adawan304 Aqlibuun
96 Haashiim201 Munbidz305 Saakhim
97 Hiyaan202 Baarun306 Khoo’iil
98 Aashim203 Raawan307 Ikhyaal
99 Wijaan204 Mu’biin308 Hiyaaj
100 Mishda’205 Muzaahiim309 Zakariya
101 Aaris206 Yaniidz310 Yahya
102 Syarhabil207 Lamii311 Jurhas
103 Harbiil208 Firdaan312 Isa ibnu Maryam
104 Hazqiil209 Jaabir313 Muhammad SAW
105 Asymu’il