About

MTs Al Isthakhariyyah Pamalayan

MTs Al Isthakhariyyah

MTs Al Isthakhariyyah - Lembaga Pendidikan Islam Terbaik.

MTs Al Isthakhariyyah Hiking Rally

MTs Al Isthakhariyyah - Lembaga Pendidikan Islam Terbaik.

Pelantikan OSIS

MTs Al Isthakhariyyah - Lembaga Pendidikan Islam Terbaik.

Upacara Pramuka

MTs Al Isthakhariyyah - Lembaga Pendidikan Islam Terbaik.

Perpisahan

MTs Al Isthakhariyyah - Lembaga Pendidikan Islam Terbaik.

Tampilkan postingan dengan label Berita Ciamis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Ciamis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Mei 2015

Honorer Kemenag Ciamis Tanyakan Sertifikasi Guru

Ratusan guru di bawah naungan Ke­men­terian Agama Kabupaten Ciamis mengadakan audiensi dengan seksi  Mapenda (Mad­rasah dan Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Dasar), kemarin (15/2/2015). Mereka mempertanyakan sertifikasi yang tidak kunjung cair lebih dari satu tahun.
Audiensi itu diikuti guru honorer mulai dari tingkat Raudhatul Athfal, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsa­nawiyah hingga Madrasah Aliyah.
Ketua Forum Guru Honor Madrasah Kabupaten Pa­ngan­daran Aziz mengatakan audiensi tersebut dilakukan untuk menghindari tudingan negatif terhadap Kepala Seksi Mapenda Kementrian Agama Kabupaten Ciamis. “Kita undang Kepala Seksi Mapenda untuk menjelaskan kepada rekan-rekan kita yang sejelas-jelasnya. Kita tidak ingin bertindak berlebihan tapi kita menuntut hak kita yang dibayarkan pemerintah melalui Kasi Mapenda,” ungkapnya kepada Radar.
Lanjutnya, pihaknya merasa dirugikan karena sertifikasi tidak dibayarkan Kementrian Agama Kabupaten Ciamis. “Pengajuan anggaran dengan kuota tidak sesuai, kita curiga pencarian sertifikasi itu tutup lubang gali lubang,” ungkapnya.
Salah seorang guru honorer Firmansyah mengatakan ada kejanggalan pencairan untuk alokasi anggaran 2014, khususnya untuk sertifikasi guru PLPG di tahun 2013. “PLPG tahun 2013 yang cair itu hanya di UIN Cirebon, tetapi yang di Unsil dan UPI itu tidak cair,” ungkapnya.
Karena itu, dirinya beserta rekan-rekan lainnya mempertanyakan pecairan anggaran sertifikasi tersebut. Apakah alokasinya memang tidak ada. “Saya tanyakan ke pusat, katanya anggaran dari pusat semua sudah cair,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, dirinya juga mempertanyakan fungsi madrasah yang belum berjalan baik. “Seharusnya informasi yang ada itu disampaikan langsung tanpa diminta oleh guru-guru terutama guru honorer,” ungkapnya.
Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kementerian Agama Kabupaten Ciamis Dadang Sudrajat menjelaskan sertifikasi guru madrasah tidak cair karena tidak ada anggaran. “Kalau dananya banyak kan harus diusulkan, sedangkan usulannya tidak seperti yang lain, karena Kementerian Agama itu adalah kementerian vertikal jadi harus melalui prosedur sesuai persyaratan yang dikeluarkan oleh Kementrian keuangan,” jelasnya.
“Pengusulan itu harus lengkap, harus ada SK Dirjen, harus ada NRG, harus ada NUPTK jadi tidak mungkin saya usulkan kalau hanya memiliki SK profesi saja,” sambungnya.
Dikatakannya, setiap kabupaten atau kota memiliki kebijakan berbeda-beda. “Ciamis itu terbesar nomor dua di Jawa Barat, dari sisi anggaran tidak begitu signifikan antara peserta sertifikasi dengan anggaran yang tersedia,” ungkapnya. (oby)

Rabu, 04 Maret 2015

Banjar Jawa Barat Terancam Banjir



Akibat tergerus erosi, tanggul sungai Cijolang kini hanya menyisakan lebar 50 cm. Kejadian tersebut mengancam puluhan rumah warga, dan ratusan hektar sawah, di dusun Pasirleutik, Desa Mekarharja, Kec. Purwaharja, Kota Banjar.
Longsornya tanggul membuat warga setempat bersiap-siap untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Kepala Desa Mekarharja, Saptono, mengatakan, tergerusnya tanggul sudah terjadi sejak lama. Sebab, tanggul yang kini terkena erosi telah mengalami penyempitan akibat erosi sebelumnya.
“Tanggul itu dulu cukup lebar sampai bisa ditanami pohon. Memang sudah ada berapa kali peninjauan dari pihak terkait, tetapi belum ada penanganan. Jadi tak heran jika sekarang hanya bersisa ketebalan lima puluh centi,” jelasnya kepada HR online, Rabu, (04/03/2015).
Bahkan pihaknya, kata Saptono, sebulan yang lalu telah mengirim surat kepada Balai Besar Wilayah Sungai Cintanduy (BBWSC). Namun, hingga kejadian longsor kembali, belum ada respon dari BBWSC.
Saptono merasa heran dengan penjelasan BBWSC yang tidak bisa bertindak, karena tanggul belum benar-benar jebol.
“Mereka katanya akan menggunakan dana tanggap darurat bencana, dan itu anggaran bisa digunakan kalau sudah terjadi tanggul jebol. Kalau tidak begitu, maka penggunaan anggaran akan menyalahi aturan, sejak itu saya tidak bertanya lagi, takut warga mendengar dan marah,” ungkapnya.
Sementara itu, Uman Suhaman, dari BPBD Kota Banjar, mengatakan, harus ada penanganan segera terhadap tanggul yang tergerus erosi sepanjang 150 cm. lantaran, lokasi tanggul longsor berada ditikungan sungai, dan saat tanggul benar-benar jebol maka akan menerjang pemukiman warga.
“Harus segera ada penanganan. Kalau tidak sepuluh rumah warga akan diterjang banjir, dan ratusan hektar sawah yang akan panen terancam terendam. Kami menghimbau warga untuk tetap waspada,” ucapnya.

Sabtu, 28 Februari 2015

Ketegasan Ahok Dalam Dunia Pendidikan

 ‎Rupanya Pemprov DKI menggunakan e-budgeting tidak hanya untuk transparansi perencanaan, penggunaan dan pengelolaan anggaran. e-Budgeting juga digunakan sebagai jebakan batman untuk para koruptor. Hal ini dijelaskan oleh Gubernur DKI Basuki T Purnama (Ahok).

Berawal dari ‎temuan mantan Kepala Dinas Pendidikan DKI Lasro Marbun pada 2014. Ia menemukan pengadaan UPS senilai Rp 4,3 triliun, dan berhasil dipotong.

"Pak Lasro jelas, sudah coba memotong Rp 4,3 triliun tapi kan masih ada suku dinas di bawahnya yang masih nakal kan. Dipaksa, makanya masih lolos di 2014, masih lolos 55 paket," kata Ahok di Pondok Bambu, Jakarta Timur, Sabtu (28/2/2015).

Kemudian Ahok mengungkapkan jebakan 'batman'-nya melalui e-budgeting yang sistemnya digunakan untuk APBD 2015. Jebakannya pun berhasil, ada anggaran pengadaan 'siluman' yang masuk di APBD 2015 setelah dikembalikan oleh DPRD. Padahal, di e-budgeting Pemprov DKI anggaran itu tak ada.

"Makanya saya tungguin 2015, nih pasti ketagihan duit enak nih, pasti dia masukin. Eh benar! Masuk lagi Rp 12,1 triliun kan, ya sudah. Nah sekarang saya harus bagaimana?" ujar Ahok.

Langkah yang diambil Ahok adalah menunda disahkannya APBD DKI 2015 dan melaporkan temuannya ke pihak yang berwenang seperti KPK. Hal ini yang membuat Ahok dihadiahi hak angket oleh para anggota dewan.

"Kalau kalian bilang saya kurang komunikasi, komunikasi saya cuma satu. Kalau seluruh Rp 12 triliun saya masukan APBD, nggak ada yang nggak senang sama Ahok," ucap Ahok.

"Jadi Ahok bisa menyatukan seluruh ideologi parpol di Jakarta coba. Jadi tidak ada bicara ideologi, yang ada bicara Rp 12 triliun diterima, beres! Kalau nggak diterima, semua partai nggak baik sama saya," tutup Ahok

Drs. H. Endang Rahmat, M.Pd Ketua PGRI Kabupaten Ciamis

Kepala SMAN 2 Ciamis, Drs. H. Endang Rahmat, M.Pd., merupakan calon catu-satunya yang melenggang untuk menjadi Ketua PGRI Kabupaten Ciamis, pada kegiatan Musyawarah Organisasi Kabupaten (Musorkab) PGRI yang akan digelar pada tanggal 28 Februari 2015 mendatang.
Endang Rahmat akhirnya dikukuhkan sebagai calon tunggal Ketua PGRI Kabupaten Ciamis periode mendatang, pada rapat pengukuhan bakal calon Ketua PGRI, di wisma PGRI, Selasa (24/2/2015).
Saat dimintai tanggapan terkait pengukuhan calon tungga Ketua PGRI, Endang mengaku bahwa menjadi Ketua PGRI bukanlah sesuatu hal yang mudah dalam mengemban amanah. Menurut dia, perlu kinerja yang baik agar organisasi PGRI maju dan berkembang.
“Saya rasa, saat ini PGRI Ciamis tidak ada masalah dalam mempersatukan guru, baik dalam kinerja maupun dalam permasalahan-permasalan mengenai guru sebagai pengajar di sekolah,” ujarnya.

Taman Kanak-kanak (TK) Ambruk

Akibat sudah lapuk dimakan usia, sekolah Taman Kanak-kanak (TK) PGRI yang berada di Dusun Pamotan RT 1/RW 1 Desa Pamotan Kecamatan Kalipucang Kabupaten Pangandaran ambruk dan rata dengan tanah, Rabu (25/02/2015). Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristriwa ini. Namun, kerugian diperkirakan mencapai 45 juta.
Peristiwa ambruknya bangunan sekolah ini terjadi sekitar pukul 13.45 WIB, kemarin. Menurut kepala sekolah TK PGRI, Ida Rosidah, kejadian bangunan sekolahnya ambruk di saat sudah tidak ada aktivitas belajar atau seluruh siswanya sudah pulang sekolah.“Jika masih dalam kegiatan belajar mengajar, saya tidak bisa membayangkan,” ujarnya, kepada HR, Kamis (26/02/2015).
Dihubungi terpisah, Kaur Kesra Desa Pamotan Unang, mengatakan, kejadian ambruknya sekolah TK tersebut sudah dilaporkan ke pihak pemerintahan kabupaten. “ Kami pun melalui UPTD Pendidikan Kalipucang sudah melaporkan kejadian ini ke Dinas Pendidikan,” katanya.
Unang berharap Pemkab Pangandaran bisa membantu dana untuk membangun kembali bangunan yang ambruk. Karena, menurutnya, bangunan itu sangat dibutuhkan untuk kelancaran belajar mengajar siswa.

Rabu, 25 Februari 2015

Kekayaan Alam di Ciamis

Setelah batuan permata asal Kawasen, Kecamatan Banjarsari, banyak diperbincangkan hingga keluar daerah, kini banyak dari warga setempat yang berburu bahan batu akik tersebut. Namun, ternyata tidak semua orang bisa mendapatkan batu akik dengan mudah. Pasalnya, kalau belum berjodoh siapapun sulit untuk mendapatkannya.
Iwa, warga RT 06/RW 02, Dusun Karangwangkal, Desa Kawasen, kepada Koran HR, pekan lalu, mengaku bersama puluhan warga lainnya sengaja datang ke sebuah sungai yang ada di wilayah itu, untuk menggalid an mencari bahan batu akik.
“Ternyata tidak mudah mendapatkan bahan batu akik. Bongkahan batunya terlalu keras, panjang dan lebar,” katanya.
Senada dengan itu, Usman, Ketua RT 06 RW 02, Dusun Karangwangkal, membenarkan sulitnya mencari bahan batu akik yang berkualitas bagus. Kalau belum rejekinya, sekalipun orang Kawasen asli, orang itu tidak bisa menemukannya.
“Tapi alhamdulillah, setelah menggali dengan kedalaman satu meter, saya menemukan bongkahan batu bahan batu akik bermotif loreng tentara. Batu yang saya dapatkan, akan saya coba jual dengan harga antara Rp 1 sampai 2 juta perkilogramnya,” kata Usman.
Keberadaan batuan permata (Batu Akik), asal Desa Kawasen, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, ternyata terungkap dalam sebuah buku kuno (Kedaleman) tentang sejarah Kerajaan Kawasen yang dirilis pada sekitar tahun 1600.
Buku tersebut juga mengisahkan tentang perjalanan berdirinya Kerajaan Kawasen sampai meninggalnya Raja Kawasen. Selain itu, dikisahkan juga tentang tingkah dan prilaku para sesepuh Kawasen lainnya.
Sekertaris Desa Kawasen, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Nanang, kepada Koran HR, Senin (16/2/2015) lalu, mengungkapkan, di dalam buku kuno tersebut juga terdapat sebuah peta harta karun yang menjelaskan soal keberadaan barang-barang peninggalan Kerajaan Kawasen yang kini terkubur dalam tanah.
“Barang-barang peninggalan itu disimpan dalam tanah, di beberapa titik lokasi, oleh sesepuh Kawasen, Tumenggung Sutanangga. Termasuk keberadaan bongkahan bahan batu akik milik Tumenggung Bagus Sutapura (Nama lain Sutanangga), putra Prabu Galuh Cipta Permana, Raja Galuh Terakhir,” katanya.
Hal itu dikatakan Sekertaris Desa Kawasen, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Nanang, kepada Koran HR, Senin (16/2/2015) lalu. Menurut dia, batu akik yang dibuatnya bukan batu akik sembarangan. Batu itu indah dan sangat bagus, karena bisa memancarkan sebuah cahaya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Desa Kawasen, Zenal Arifin, membenarkan, di dalam buku Kedaleman Kawasen itu terdapat sebuah peta kuno yang menjelaskan penyimpanan barang-barang berharga peninggalan Kerajaan Kawasen.
“Benar apa yang dikatakan Mursiman, paranormal asal Sukamulya, Karangpaningal, tentang keberadaan benda bersejarah dan barang berharga lainnya, seperti batu permata, batu akik dan berlian yang harganya mencapai ratusan juta rupiah,” katanya. (Ntang/Koran-HR)

Hujan Es di Ciamis

Hujan es yang disertai angin kencang melanda Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Rabu (25/02/2015) siang tadi. Pedagang yang berada di Pasar Malam Alun- Alun Kawali tampak berhamburan saat angin kencang nyaris merobohkan tenda stand dagangannya.
Dedi, pedagang pakaian yang mangkal di Pasar Malam Alun-alun Kawali, mengatakan, saat hujan es dan angin kencang menerjang, atap tenda stand dagangannya sebagian terbawa angin. “Untung saja, pakaian yang dipajang di depan stand masih tersimpan, sehingga aman dari guyuran hujan,” katanya, kepada HR, siang tadi.
Hala senada dikatakan Agus, pedagang lainnya. Menurutnya, akibat angin kencang, tak hanya atap tenda pedagang yang terbawa angin, tetapi atap asbes beberapa toko yang berada di sekitar Alun-alun pun berterbangan. “Saat kejadian, para pedagang berhamburan mencari tempat aman. Karena khawatir tenda stand roboh dan menimpa kami,” katanya.
Sementara itu, menurut Ketua RT 04/RW 02 Dusun Cibiru, Desa Kawali, Kecamatan Kawali, Yusuf Effendi, mengatakan, hujan es merupakan kali pertama terjadi di daerahnya. “Butiran- butiran es hingga berserakan di sepanjang jalan,” katanya, ketika dihubungi HR, tadi siang. (Dji/R2/HR-Online)

Kamis, 05 Februari 2015

Bocah Penantang Maut

Pangandaran, (harapanrakyat.com),-
Dua orang bocah di Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, setiap harinya menantang maut dengan menyeberangi jembatan gantung saat akan pergi maupun pulang dari sekolah.
Kedua bocah itu adalah Arif dan Wawang, anak kelas 2 SD Negeri II Cintaratu, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran. Mereka mengaku terpaksa harus menyeberangi jembatan gantung lantaran tidak ada pilihan jalan lain.
“Meskipun jebatan gantung ini sangat tinggi dan panjang, terus kalau hujan jadi licin, kalau ada motor lewat jembatan bergoyang, tapi saya dan teman saya tidak merasa takut karena sudah biasa,” tutur Arif, kepada HR Online, Rabu (04/02/2015).
Keberadaan jembatan gantung yang melintasi Sungai Ciujulang itu menjadi salah satu akses penghubung dua dusun di wilayah Desa Margacinta, dan akses menuju kawasan wisata Bodyrafting Cintaratu. (Ntang/R3/HR-Online)

Jumat, 30 Januari 2015

Miras, Seks, Mati

Untuk mengumbar hawa nafsu, orang sering menggunakan miras oplosan yang dicampur minuman suplemen, obat nyamuk, aibon, sepirtus, yang bisa membikin orang sakaw atau mabuk. Kebiasaan menegak minuman yang memabukan sekarang sangat disukai penggemarnya. Penggemar minuman recehan itu tidak saja orang dewasa anak-anak remaja juga terjangkiti kebiasan jelek itu.
Hampir di setiap daerah di negeri ini, tak sedikit penggemarnya. Akibat dari meminuman itu, mengakibatkan orang mabuk bahkan memperkosa wanita tak memandang usia jelek atau cantik, muda atau tua. Sungguh edan dan mengerikan, anehnya minuman oplosan sulit diberantas. Pertanyaan apa yang salah yang terjadi saat ini. Mungkin jawaban sejujurnya ada pada diri kita masing-masing.
Bagaimana pemecahan solusinya, tidak hanya dengan ngomong atau tindakan hukum. Tapi kita semua harus dituntut berpikir cerdas untuk menyelamatkan bangsa ini kedepan. Tidak hanya berdampak nafsu birahi, atau merasa sok jagoan. Yang lebih tragis, miras bisa peminumannya mati mengenaskan dan berombongan. Baru-baru ini lima peminum miras di Cirebon mati berbarengan. Kejadian semacam ini, bukan baru pertama kali di negeri kita.           
Minuman keras oplosan kembali merenggut nyawa warga, Kamis (6/2), lima warga Desa Kanggraksan Selatan, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, Jawa Barat, tewas setelah menenggak minuman keras oplosan pada Selasa dan Rabu. Seorang korban masih dirawat di Rumah Sakit Putra Bahagia, Cirebon.
Kepala satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Kota Cirebon Ajun Komisaris Dony Satria Wicaksono mengatakan, seorang warga, Jetri, tewas pada Kamis pukul 14.30. Empat warga lainnya tewas pada Kamis sekitar 04.00. keempat warga itu adalah Zaenal, Yudi, Dion dan Soleh.
“Polisi masih menyelidiki jenis miras oplosan yang dikonsumsi warga. Namun, dari keterangan dua saksi yang selamat dari kejadian itu, warga menyebut jenis miras itu dengan arak bali,” ujarnya. Dony mengatakan, dua dari empat korban meninggal dunia diotopsi di Rumah Sakit Bhayangkara, Losarang, kabupaten Indramayu. Sementara korban lainnya langsung dimakamkan.
Polisi menyebutkan, paling tidak delapan orang ikut menenggak minuman itu pada Selasa petang hingga tengah malam. Mereka kembali menenggak minum itu pada Rabu malam hingga kamis dini hari. Pada kamis dini hari, empat warga langsung muntah-muntah dan pusing kemudian meninggal.
Prasetyadi (14), korban yang masih dirawat di rumah sakit, sejak rabu malam muntah-muntah dan mual. “Kepada saya, ia mengaku tidak minum banyak. Ia Cuma diajak teman-temannya yang lebih tua. Sudah dua hari dia tidak pulang, saat pulang mukanya pucat dan muntah-muntah seperti orang masuk angin,” ujar Umi Kulsum (60) nenek Prasetyadi.***

MIras di Kalangan Anak SMA

Keberadaan miras akhir-akhir ini sedang naik daun di kalangan masyarakat luas. Hal tersebut terjadi lantaran banyak orang yang tewas setelah meminum miras. Terlebih lagi jika miras itu merupakan miras oplosan. Selain itu, pihak kepolisian juga gencar memberantas keberadaan miras di kalangan masyarakat.
Keberadaan miras juga sudah merambah ke SMA Negeri 1 Pangandaran. Hanya saja, ‘miras’ yang satu ini sengaja  dibuat  dan dijual secara bebas kepada para siswa-siswi. Bahkan yang membuatnya pun seorang siswi bernama Hesti, siswi kelas 2  IPA-2.
“’Miras’ yang dijual secara bebas di SMA Negeri 1 Pangandaran merupakan minuman rasa susu alias Miras. Tentunya Miras ini bukan minuman keras yang membahayakan keselamayan jiwa seseorang,” kata Hesti sambil tersenyum, ketik ditemui HR, di SMAN 1 Pangandaran, Senin (19/1/2015).
Hesti mengaku, miras atau minuman rasa susu yang dia buat hanya dijual Rp. 3 ribu percup dan hanya dijual pada even-even tertentu saja. Selain memproduksi miras, para siswi SMA Negeri 1 Pangandaran juga gemar membuat makanan olahan lain, seperti bobocot atau bola-bola coklat yang dibandrol harga Rp. 1000.
Lebih lanjut Hesti mengungkapkan, setiap hari Jum`at, para siswa dan siswi SMA Negeri 1 Pangandaran juga tidak menyia-nyiakan waktu senggang. Mereka memanfaatkan waktu dengan membuat kerajinan tangan yang terbuat dari bahan kain panel.
“Hasil kerajinan itu dijual kembali kepada para siswa dengan harga Rp 3 sampai 5 ribu, tergantung variasi dan tipe,” katanya.
Kepala SMAN 1 Pangandaran, Drs. Surman, Selasa (20/1/2015), mengaku bangga kepada para siswa-siswinya yang mau berkreasi dengan memafaatkan waktu luang dengan membuat sebuah inovasi berupa kerajinan ataupun kuliner. Pihaknya akan selalu mendukung kreatifitas para siswa selama itu berada dalam hal yang positif.(Ntang/Koran-HR)

pergaulan bebas remaja di Kabupaten Ciamis.

LSM Wisma (Wadah Aspirasi dan Partisipasi Masyarakat), lembaga yang bergerak di bidang penanggulangan HIV/AIDS, menemukan fakta yang mengkhawatirkan terkait pergaulan bebas remaja di Kabupaten Ciamis.
Dari hasil testimoni terhadap kaum waria yang kerap mangkal di sekitar taman Raflesia Ciamis, diperoleh pengakuan bahwa mereka sering melayani pelanggan dari kalangan remaja. Bahkan, ada pelanggan diantaranya yang masih anak-anak atau berstatus pelajar sekolah dasar (SD).
Hal itu dikatakan CO (Community Organizer) LSM Wiswa, Yuyun Yuningsih yang juga Ketua Srikandi Panjalu Ciamis (Organisasi Waria), saat bersama sejumlah aktivis penanggulangan HIV/AIDS Ciamis, berkunjung ke kantor PWI Ciamis, Selasa (27/01/2015).
Yuyun mengatakan, fakta adanya anak-anak SD yang sudah menjadi pelanggan waria memang benar terjadi. Menurutnya, di kalangan kaum waria saling tukar informasi menyangkut urusan pribadi sudah terbiasa.
“Artinya begini, kalau waria dengan waria ngerumpi, sudah tidak ada lagi rahasia. Dan saya sebagai ketua waria di Ciamis, selalu mengontrol setiap aktivitas seluruh anggota,” katanya.
Menurut Yuyun, waria di Ciamis yang mengaku sudah melayani anak SD, bukan yang pertama kalinya terjadi. Tetapi, sebelumnya pun ada waria berbeda mengatakan pengakuan yang sama. “Jadi, kasus anak SD di Ciamis yang sudah doyan waria, pastinya sudah lebih dari satu. Namun, jumlah pastinya berapa, belum kami ketahui,” ujarnya.
Yuyun mengatakan, alasan anak SD sudah menjadi pelanggan waria, salah satunya karena faktor pergaulan. Anak itu, mengaku sering menonton video porno, hingga akhirnya memiliki ketertarikan melakukan hubungan intim.
Adapun anak itu memilih waria sebagai penyaluran hasrat seksualnya, lanjut Yuyun, karena alasan ekonomis. Karena tarif waria cenderung lebih murah ketimbang memboking wanita nakal. “Tarif kencan dengan waria cukup dengan uang Rp. 30 ribu. Dan anak itu berani bayar,” katanya.
“Jadi, masalah yang terjadi saat ini, tidak hanya persoalan pencegahan HIV/AIDS saja, tetapi masalah pergaualan bebas remaja pun harus menjadi perhatian semua pihak,” ujarnya.
Menurut Yuyun, dirinya sempat menegur dan memberi peringatan kepada anggotanya yang sudah melayani anak-anak. Meski demikian, kata dia, untuk mencegah hal itu tidak terulang kembali, sulit mengontrolnya.
“Karena susah juga ngasih peringatan kepada waria kalau sudah urusan pelanggan. Mereka melakukan itu motiviasinya cari uang. Jadi, mau dewasa atau anak-anak, kalau si pelanggan berani bayar, pasti si waria mau,” ujarnya. (Bgj/R2/HR-Online)

Rabu, 28 Januari 2015

Alasan Pembangunan Bendungan di Ciamis

Kepala Beppeda Kabupaten Ciamis, Drs. H. Kusdiana, MM, didampingi Kabid Fisik dan Sarana Beppeda Ciamis, H. Tino Armyanto, ST, M.Si, mengatakan, latar belakang dibangunnya bendungan Leuwi Keris, yakni dalam rangka pemanfaatan dan pengembangan potensi sumber daya air di aliran sungai Citanduy, terutama untuk melayani kebutuhan air baku pada musim kemarau.
“Selain itu, bendungan ini pun untuk mensuplay penyedian air irigasi pertanian dan mengurangi besarnya banjir ke bagian hilir. Dan keuntungan dibangunnya bendungan tersebut, selain untuk kawasan wisata, perikanan dan pemanfaatan air untuk pasokan PDAM, juga memiliki potensi untuk dibangun PLTA sebagai dampak dari pertumbuhan penduduk jangka panjang,” terangnya, kepada HR, Selasa (20/01/2015). [Baca juga: Di Bendungan Leuwikeris, Pemkab Ciamis Rencanakan Bangun Objek Wisata]
Kusdiana menambahkan, bendungan Leuwikeris ini akan dibangun di Sungai Citanduy dengan lokasi separuh wilayah Desa Ciharalang, Kecamatan Cijeunjing atau berada di sebelah selatan TPA Handapherang. [Baca juga: Bendungan Leuwikeris akan Pasok Kebutuhan Air Pertanian Ciamis Selatan]
“Sementara separuhnya lagi akan mengambil wilayah Kecamatan Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya. Namun, lahan yang akan dibangun bendungan ini, juga akan mengambil lahan di wilayah Kelurahan Cigembor, Benteng dan Linggasari. Hanya, titiknya berada di Desa Ciharalang,” terangnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Kasi Program, sekaligus PPK Perencanaan dan Program BBWS Citanduy, Marwansyah, ST., M.Tech., mengatakan, untuk mewujudkan pembangunan Bendungan Leuwikeris telah melalui beberapa tahap. Salah satunya mulai muncul sejak tahun 1975 dengan dibuatnya masterplan.
“Pada tahun 1983 sampai 2011 dilakukan beberapa study, dilanjutkan dengan analisis dampak lingkungan atau amdal. Dan, di tahun 2012 mulai merancang desaign enggenering detail atau DED,” katanya.
Menurut Marwansyah, jika tidak ada kendala, bendungan yang berada pada lokasi dua wilayah perbatasan antara Kabupaten Ciamis dengan Kabupaten Tasikmalaya itu, pelaksanaan pembangunannya bisa dikerjakan paling lambat di tahun 2016. (Bgj/Koran-HR)

kajadian luar biasa (KLB) di Ciamis

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis, drg. Engkan Iskandar, menjelaskan, terdapatnya puluhan warga yang mengalami gangguan jiwa di Desa Budiasih, Kecamatan Sindangkasih, Kabupaten Ciamis, bukan merupakan kajadian luar biasa (KLB). Sementara terkait hingga puluhan warga yang mengalami sakit jiwa, menurutnya, terjadi hanya secara kebetulan.
“Artinya, kasus ini terjadi tidak serentak atau dalam waktu yang bersamaan. Tetapi, masing-masing penderita mengalami gangguan jiwa pada waktu yang berbeda-beda,” katanya, kepada HR, Selasa (27/01/2015). [Baca juga: Tim Dokter Periksa 51 Penderita Sakit Jiwa di Desa Budiasih Ciamis]
Menurut Engkan, meski warga setempat menganggap kasus gangguan jiwa ini terjadi akibat dari penularan satu sama lainnya, namun secara medis asumsi itu dimentahkan. Karena, kata dia, gangguan jiwa bukan merupakan penyakit menular.
“Kita juga sembari memberikan pemahaman kepada warga bahwa gangguan jiwa ini tidak menular. Hal itu dilakukan agar tidak terjadi keresahan di masyarakat,” katanya. (Bgj/Koran-HR)

Penyebab Sakit Jiwa

Dinas Kesehatan sudah melakukan penelusuran dan wawancara kepada seluruh keluarga pasien sakit jiwa di Desa Budiasih, Kecamatan Sinangkasih, Kabupaten Ciamis. Langkah itu dilakukan guna mengetahui riwayat dan penyebab masing-masing penderita hingga mengalami gangguan kejiwaan. Hasil penelurusan diketahui penyebabnya berbeda-beda.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis, drg. Engkan Iskandar, mengatakan, menelusuri riwayat masing-masing penderita sakit jiwa di Desa Budiasih sangat diperlukan. Hal itu untuk menjawab rasa penasaran publik menyusul tingginya angka penderita sakit jiwa di daerah tersebut. [Baca juga: Tim Dokter Periksa 51 Warga Desa Budiasih Ciamis yang Dilaporkan Sakit Jiwa]
“Publik pasti bertanya-tanya kenapa hingga puluhan orang dalam satu kampung bisa mengalami sakit jiwa. Pertanyaan itu tentunya harus segera dijawab, agar tidak terjadi simpang siur informasi,” katanya, kepada HR, Selasa (27/01/2015).
Menurut Engkan, penyebab puluhan warga Desa Budiasih mengalami sakit jiwa ternyata beragam. Diantaranya ada yang sakit jiwa karena ditinggal suami meninggal, karena usahanya gagal dan karena himpitan ekonomi. “Hanya, yang paling dominan, penyebabnya karena himpitan ekonomi. Karena dari 26 penderita itu rata-rata ekonomi keluarganya menengah ke bawah,” ujarnya. [Baca juga: Kadinkes Ciamis: Puluhan Warga Desa Budiasih Sakit Jiwa Bukan KLB]
Engkan menambahkan, meski rumah penderita satu dengan yang lainnya tidak saling berjauhan, namun tidak ada keterkaitan mengenai riwayat dan penyebab hingga mereka mengalami sakit jiwa.
“Contohnya, penderita A mengalami sakit jiwa penyebabnya karena usahanya bangkrut. Sementara tetangganya atau penderita B mengalami sakit jiwa karena ditinggal mati suaminya. Dengan begitu, penyebabnya tidak saling berkaitan,” terangnya. (Bgj/Koran-HR)

Berita Ciamis

Musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) tingkat Desa dan Kelurahan di Kota Banjar sudah selesai digelar selama 8 hari. Namun berdasarkan hasil evaluasi, pelaksanaan Musrenbang itu ternyata masih banyak desa/kelurahan yang belum paham maksud dari musyawarah tersebut.
Hal itu dikatakan Ketua Tim Fasilitator Perencanaan Pembangunan Partisipatif Kota Banjar, Banuarli Sumirat, saat konfrensi pers atas evaluasi pelaksanaan Musrenbangdes/kel se-Kota Banjar, di Aula Bappeda Kota Banjar, Kamis (22/01/2015).
“Kami simpulkan, hasil Musrenbangdes tidak semua desa/kelurahan paham maksud dengan musyawarah itu. Ada beberapa desa yang perlu perbaikan dalam mengaplikasikan penyusunan usulan pembangunan,” jelasnya.
Untuk itu, kedepan pelaksanaan Musrenbangdes harus disempurnakan, sehingga dapat menghasilkan perencanaan lebih baik lagi. Menurut Banuarli, persoalan itu menjadi “PR” bersama, baik Pemkot Banjar, termasuk juga fasilitator.
Meski begitu, Banuarli mengaku bahwa pihaknya sangat mengapresiasi terhadap semua desa/kelurahan yang sudah melaksanakan kegiatan Musrenbang dengan baik dan lancar. Sebab, kegiatan tersebut sangat tepat dilakukan supaya masyarakat paham apa yang harus dikerjakan dalam konsep “Desa Membangun,” yaitu menyusun usulan dalam wadah Musrenbang tingkat desa/kelurahan dengan memperhatikan RPJMDes.
“Hasil Musrenbang tingkat desa dan kelurahan ini akan dibawa ke Musrenbang tingkat kecamatan, yaitu mulai dilaksanakannya tanggal 9 Februari 2015, yang akan didahului dengan pelaksanaan pra Musren pada tanggal 3 Februari nanti,” kata Banuarli. (Nanks/Koran-HR)