About

MTs Al Isthakhariyyah Pamalayan

MTs Al Isthakhariyyah

MTs Al Isthakhariyyah - Lembaga Pendidikan Islam Terbaik.

MTs Al Isthakhariyyah Hiking Rally

MTs Al Isthakhariyyah - Lembaga Pendidikan Islam Terbaik.

Pelantikan OSIS

MTs Al Isthakhariyyah - Lembaga Pendidikan Islam Terbaik.

Upacara Pramuka

MTs Al Isthakhariyyah - Lembaga Pendidikan Islam Terbaik.

Perpisahan

MTs Al Isthakhariyyah - Lembaga Pendidikan Islam Terbaik.

Selasa, 03 Maret 2015

Miris Kondisi Guru di Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Pemerhati Pendidikan, Abduh Zen mengatakan, guru-guru di Indonesia sedang menghadapi permasalahan. Hal itu terkait dengan penghentian sementara Kurikulum 2013.

"Guru kita dalam masalah, dan sekarang kondisi guru di Indonesia tidak baik," ujar Zen dalam diskusi di Warung Daun, Cikini, Menteng, Jakarta, Sabtu (13/12/2014).

Menurut Zen, di hasil Uji Kompetensi Awal (UKA) dan Uji Kompetensi Guru (UKG) para guru di bawah rata-rata. Karena itu dia menyebut, kondisi ini memprihatinkan. "Coba Anda bayangkan akan sukar jika guru kita dalam kondisi seperti ini," lanjut Zen.

Guna mengubah kondisi ini, Zen mengimbau agar pemerintah melakukan pembaruan. Antara lain dengan memberikan pelatihan kepada para guru yakni pelatihan yang benar-benar efektif untuk menghadapi situasi-situasi tak terduga, seperti penghentian sementara Kurikulum 2013.

Zen mengungkapkan, masalah lain yang dihadapi para guru Indonesia yakni soal motivasi yang tidak benar-benar menyentuh ke dalam diri mereka.

"Motivasi tidak menyentuh aspek batin guru. Ini mesti disuntikan virus motivasi ke dalam guru-guru kita, sehingga mereka menyempurnakan profesinya," ujar Zen

Cara Gratis Kuliah di Eropa

Liputan6.com, Jakarta - Uni Eropa (UE) siap menggelar pameran pendidikan terbesar dan bertaraf internasional di tiga kota besar Indonesia. Pameran pendidikan tinggi Eropa (EHEF) itu dijadwalkan mengikutsertakan 150 institusi perguruan tinggi dari 14 negara di benua biru.

EHEF tahun ini memasuki penyelenggaraan yang keenam. Pameran ini akan dimulai di Balai Kartini Jakarta, 8-9 November 2014. Lalu dilanjutkan di Grand City Ball Room Surabaya 11 November dan ditutup di Universitas Hasanudin, Makasar 13 November.

Dalam jumpa pers yang diadakan menjelang EHEF, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Olof Skoog menyambut baik berlangsungnya acara ini. Ia mengatakan pendidikan merupakan cara jitu mendekatkan warga Uni Eropa dan Indonesia.

"Pendidikan dapat meningkatkan saling pengertian antar warga. Uni Eropa terus mendukung pendidikan yang berkualitas," sebut Skoog di Jakarta, Kamis (6/11/2014).

Tanpa ragu, Skoog menyebut, Eropa merupakan tujuan bagi siswa-siswa berprestasi. Bukan cuma dari Indonesia tetapi juga dari seluruh dunia.

Oleh sebab itu, Uni Eropa menanggap sektor pendidikan adalah bidang yang sangat serius untuk digarap. Sehingga, negara-negara anggota Uni Eropa tak ragu untuk menanamkan investasi besar di bidang pendidikan dan penelitian.

"Kami berharap siswa internasional dari Indonesia akan memperoleh manfaat dari investasi tersebut," papar pria asal Swedia tersebut.

Selain membahas soal keunggulan belajar di Eropa, Skoog turut angkat bicara terkait tantangan yang ada ketika mahasiswa dari Indonesia belajar di Benuanya. Untuk masalah biaya dan dana hal tersebut sama sekali tak usah dikhawatirkan.

"Di Eropa, biaya kuliah tidak mahal atau dalam kasus tertentu mungkin tidak dikenakan biaya," jelas dia.

"Uni Eropa, negara anggotanya serta universitas di sana menawarkan berbagai beasiswa. Tiap tahun Uni menyediakan 1.800 beasiswa untuk mahasiswa Indonesia belajar di Eropa," kata Skoog.

Eropa sudah lama menjadi salah satu tujuan mahasiswa Indonesia untuk menimba ilmu. Hal ini terlihat dari angka mahasiswa Indonesia yang belajar di Eropa terus mengalami peningkatan.

Pada 2013, dari data yang diterima Uni Eropa, jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di Eropa naik 20 persen dari tahun sebelumnya. Bahkan di 2014, secara total ada 7.000 orang yang belajar di sana, di berbagai strata pendidikan mulai dari sarjana sampai pascasarjana.

Pendapat Wakil Presiden Tentang Pendidikan

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla atau JK menuturkan pendidikan baru dibilang berhasil kalau bisa diterapkan langsung di lapangan atau dalam kehidupan sehari-hari.

Hal itu disampaikan JK saat menerima pengajar muda dari Indonesia Mengajar di Kantor Wapres, Jakarta, Jumat (19/12/2014).

"Kemarin waktu Menteri Pendidikan (Anies Baswedan) uraikan kultur baru yang agak rumit, saya bergurau sama Pak Jokowi (Joko Widodo). Saya bilang kita kan sekolah yang sederhana saja bisa jadi begini. Jadi sebenarnya pada akhirnya semua pendidikan itu uji pokoknya adalah di lapangan," kata JK.

Dalam kesempatan ini pula, JK menyinggung Susi Pudjiastuti yang ‎hanya lulusan SMP tapi bisa menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan di pemerintahan saat ini. Ia melihat apa yang didapat Susi selama bersekolah langsung bisa diimplementasikan di kehidupan sehari.

"Saya ingin gambarkan menteri yang paling populer sekarang di kabinet, yang tamatan SMP bukan yang Phd," ujar JK.

JK juga menyampaikan anak-anak di desa lebih memiliki niat belajar dibanding anak yang tinggal di kota. Karena itu, 20% APBN dialokasikan pada pendidikan, agar pendidikan bisa menjangkau anak-anak di desa.

"Saya selalu katakan, anak desa sendiri fighting spirit-nya lebih hebat untuk belajar dari pada anak Jakarta. Cucu saya pergi ke sekolah jam 10, diantar mobil, AC, makan bawa bekal, dijemput. Coba anak desa jalan kaki 10 kilo untuk pergi sekolah. Spirit itu lebih hebat anak desa itu. Jadi Anda tinggal berikan sentuhan," tegas JK.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sekaligus pendiri Indonesia Mengajar, Anies Baswedan yang hadir dalam pertemuan tersebut juga menambahkan pentingnya minat membaca ditingkatkan. Minat membaca harus dimulai oleh para orangtua dan guru.

"Itu gurunya, gurunya harus punya minat baca. Orangtuanya harus punya minat baca. Lalu anak-anaknya diajak punya minat baca," ungkap Anies.

Selain itu, Menteri Anies mendukung diterapkan jam baca di tiap wilayah di Indonesia. Dengan demikian, anak-anak tidak hanya menghabiskan malam hari dengan menonton televisi saja.

"Lalu bagi masyarakat di komunitas yang memiliki RT/RW, buatlah jam belajar, jam membaca. Jadi jangan hanya nonton TV tapi jam baca digalakkan. Kalau RT/RW bersemangat mengemban itu insya Allah yang lain-lain akan bersemangat," tandas Menteri Pendidikan.